Hama ulat tanah atau Agrotis ipsilon biasanya menyerang tanaman kentang muda yang baru berumur satu hingga tiga minggu setelah tanam dengan cara memotong pangkal batang di permukaan tanah. Gejala khasnya adalah tanaman rebah secara tiba-tiba pada malam atau pagi hari sementara daunnya masih terlihat segar. Untuk mengatasinya, pekebun dapat melakukan pengolahan tanah secara sempurna minimal dua minggu sebelum tanam untuk mematikan kepompong yang bersembunyi di dalam tanah, serta memasang perangkap lampu pada malam hari untuk menangkap ngengat dewasa.
Sementara itu, kutu daun atau aphids seperti Myzus persicae tidak hanya menghisap cairan daun dan menyebabkan daun mengeriting, tetapi juga bertindak sebagai vektor penular virus berbahaya pada tanaman kentang. Hama ini sangat menyukai cuaca kering di musim kemarau dan bergerombol di bagian pucuk daun muda yang lezat. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan gulma di sekitar bedengan yang sering menjadi tanaman inang alternatif, serta memanfaatkan musuh alami seperti kumbang koksi dan laba-laba predator secara optimal.
Pendekatan terpadu melalui penerapan PHT atau Pengendalian Hama Terpadu menjadi kunci keberhasilan budidaya kentang yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di berbagai wilayah sentra produksi nasional. Petani disarankan untuk merotasi tanaman dengan jenis non-solanaceae, menggunakan benih bersertifikat yang sehat, serta melakukan sanitasi kebun secara berkala setelah masa panen selesai. Apabila serangan hama meluas melampaui batas ambang ekonomi, konsultasikan segera dengan petugas penyuluh pertanian lapangan di BPP setempat untuk mendapatkan rekomendasi bahan pengendali yang bijak.