Diagnosis diferensial serangan hama kentang dapat dilakukan dengan mengamati bagian tanaman yang rusak secara teliti. Serangan pada daun ditandai oleh bekas gigitan, gulungan daun, atau alur melingkar tipis, sementara serangan pada batang muda menyebabkan tanaman patah layu di permukaan tanah. Kerusakan pada umbi ditandai dengan adanya lubang gesekan atau terowongan kecil yang dilapisi kotoran hama, terutama saat kondisi tanah kering dan retak pada pertengahan hingga akhir musim tanam.
Pengendalian hama kentang secara fisik dan mekanis terbukti efektif menekan penggunaan bahan kimia. Pemasangan perangkap perekat kuning sebanyak 40 sampai 50 lembar per hektar yang dipasang setinggi 30 cm di atas tajuk tanaman mampu mengurangi populasi lalat pengorok daun dan kutu daun. Selain itu, kegiatan pembumbunan tanah setinggi 15 hingga 20 cm yang dilakukan pada umur 30 dan 50 hari setelah tanam sangat efektif menutup akses serangga pengerek untuk bertelur pada umbi kentang.
Penerapan rotasi tanaman non-Solanaceae seperti jagung, kubis, atau kacang-kacangan selang 1 hingga 2 musim tanam memutus siklus hidup hama tanah. Pemanfaatan agen hayati berupa cendawan entomopatogen atau bakteri antagonis yang disemprotkan pada sore hari dengan frekuensi 7 sampai 10 hari sekali menjadi langkah ramah lingkungan. Jika populasi hama tetap tinggi, penggunaan pestisida kimia dapat dipertimbangkan secara bijak sesuai petunjuk teknis petunjuk lapangan.






