Penyiraman dilakukan secara rutin setiap pagi hari pada fase awal pertumbuhan, yaitu 1 hingga 2 kali sehari tergantung kondisi kelembapan tanah di lahan. Ketika tanaman memasuki usia 30 hingga 60 hari setelah tanam, frekuensi penyiraman disesuaikan agar tanah tidak terlalu basah yang dapat memicu perkembangan patogen tular tanah. Gunakan sistem irigasi alur atau tetes untuk menjaga kelembapan tanah tetap stabil tanpa membasahi daun secara berlebihan.
Pemupukan susulan wajib diberikan dalam dua tahap penting guna merangsang pembentukan umbi secara optimal. Pemupukan pertama dilakukan pada umur 20 hingga 25 hari setelah tanam menggunakan pupuk kaya unsur nitrogen dan fosfor, sedangkan pemupukan kedua pada umur 45 hari setelah tanam menggunakan komposisi tinggi kalium. Lakukan pembumbunan atau penimbunan tanah di sekitar pangkal batang pada saat pemupukan kedua agar umbi kentang tidak terpapar sinar matahari yang membuatnya menjadi hijau.
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu dengan menerapkan rotasi tanaman serta sanitasi gulma di sekitar bedengan. Amati daun secara berkala untuk mendeteksi gejala serangan ulat grayak atau bercak daun lebih dini sebelum menyebar ke seluruh pertanaman. Pemanenan kentang dilakukan saat tanaman berumur 90 hingga 120 hari, ditandai dengan menguningnya daun dan mengeringnya batang secara serempak sebelum umbi digali.