Untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, petani perlu melakukan diagnosis diferensial antara layu fisik dan layu patogen. Apabila tanaman terkulai pada pukul 12.00 hingga 14.00 siang tetapi kembali segar pada pukul 18.00 sore, hal tersebut murni merupakan stres panas sementara. Namun, apabila kangkung tetap layu pucat di pagi hari saat kondisi media tanam masih basah, dapat dipastikan terdapat masalah pada sistem perakaran akibat infeksi bakteri atau jamur tanah.
Pencegahan layu akibat penguapan ekstrim dapat dilakukan dengan mengaplikasikan mulsa jerami padi setebal 3 hingga 5 cm di permukaan bedengan. Mulsa ini terbukti mampu menekan laju penguapan air tanah hingga 40 persen serta menjaga suhu perakaran tetap stabil. Selain itu, rotasi tanaman menggunakan famili non-convolvulaceae selama 3 hingga 4 minggu sangat dianjurkan untuk memutus siklus hidup bakteri Ralstonia solanacearum penyebab layu bakteri.
Sektor pemupukan juga memegang peranan penting dalam ketahanan kangkung terhadap kelayuan. Pemberian pupuk kandang matang sebanyak 1 hingga 2 kilogram per meter persegi saat pengolahan tanah dapat meningkatkan kapasitas ikat air tanah pasir maupun liat. Sebaliknya, hindari penggunaan pupuk nitrogen tunggal seperti urea secara berlebihan melebihi 10 gram per meter persegi, karena akan membuat dinding sel tanaman menjadi terlalu lunak dan mudah ditembus oleh patogen penyebab busuk akar.






