Kekurangan air adalah penyebab paling umum. Ciri-cirinya: seluruh tanaman layu merata, tanah kering dan retak, daun menguning dari tepi, dan terjadi pada siang hari. Tanaman masih segar di pagi hari. Solusinya: segera siram dengan volume cukup, beri mulsa jerami atau plastik untuk menahan penguapan, dan atur jadwal penyiraman rutin dua kali sehari (pagi dan sore) selama musim kemarau. Jika memungkinkan, gunakan irigasi tetes.
Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) lebih berbahaya. Ciri khasnya: layu mendadak meski tanah lembab, potongan batang mengeluarkan lendir putih keruh saat ditekan, dan pembuluh kayu berwarna kecoklatan. Penyakit ini menular melalui tanah dan air. Solusinya: cabut tanaman yang sakit beserta akar, jangan ditanam di lahan yang sama selama minimal 2 musim, lakukan rotasi dengan tanaman non-solanaceae (misal kacang-kacangan), dan perbaiki drainase. Untuk pencegahan, gunakan benih sehat dan hindari luka pada akar saat penanaman.
Hama penggerek batang (Omphisa anastomosalis) juga menyebabkan layu. Ciri-cirinya: layu pada satu atau beberapa batang saja, terdapat lubang kecil pada batang dengan kotoran berwarna coklat, dan batang mudah patah. Solusinya: potong dan musnahkan batang yang terserang, tanam dengan jarak rapat (15 x 15 cm) untuk mengurangi serangan, dan gunakan perangkap lampu untuk ngengat dewasa. Siram dengan POC (pupuk organik cair) untuk memperkuat tanaman. Hindari penggunaan insektisida kimia yang tidak perlu.