Populasi hama seperti thrips, kutu daun (aphids), dan kutu kebul meningkat pesat di musim kemarau karena siklus hidupnya memendek menjadi hanya 5 hingga 7 hari. Hama-hama kecil ini menusuk dan mengisap cairan sel pada pucuk daun kangkung, meninggalkan racun atau menularkan virus yang menyebabkan daun tumbuh terdistorsi. Pengamatan rutin pada pukul 07.00 pagi sangat dianjurkan, serta pemasangan perangkap perekat kuning sebanyak 10 hingga 15 lembar per 100 meter persegi untuk memantau pergerakan populasi hama secara dini.
Selain faktor hama, stres akumulasi panas dan kekurangan air memicu tanaman kangkung melakukan mekanisme pertahanan diri dengan menggulungkan daunnya guna mengurangi laju transpirasi. Pada musim kemarau, tingkatkan frekuensi penyiraman menjadi 2 kali sehari, yaitu pada pukul 06.00 pagi dan 16.00 sore, dengan volume sekitar 5 hingga 10 liter air per meter persegi lahan. Pemberian mulsa organik dari jerami padi setebal 3 hingga 5 cm sangat efektif menjaga suhu zona perakaran tetap stabil di bawah 28 derajat Celsius.
Pemenuhan nutrisi yang seimbang juga memegang peranan penting dalam meningkatkan ketahanan jaringan daun kangkung. Aplikasikan kompos matang sebanyak 1 hingga 2 kilogram per meter persegi saat pengolahan tanah, serta semprotkan pupuk organik cair (POC) setiap 5 hingga 7 hari sekali. Jaringan tanaman yang sehat dan cukup nutrisi akan lebih tahan terhadap serangan vektor penyakit dan tidak mudah mengalami kerusakan sel saat terpapar sinar matahari terik.






