Penyebab pertama yang paling sering ditemukan adalah serangan hama kutu kebul atau thrips yang mengisap cairan sel pada daun muda kangkung. Hama ini berukuran sangat kecil dan bersembunyi di balik permukaan daun, meninggalkan bercak kekuningan sebelum akhirnya daun mengeriting dan melengkung. Di musim kemarau, populasi hama pengisap ini meningkat pesat karena siklus hidupnya lebih cepat pada suhu tinggi, sehingga pemantauan rutin dua kali seminggu sangat dianjurkan.
Faktor kedua yang tidak boleh diabaikan adalah cekaman kekeringan dan ketidakseimbangan unsur hara mikro akibat penyiraman yang tidak merata. Kangkung adalah tanaman yang sangat rakus air dan akan mengalami gangguan fisiologis jika media tanam di polybag atau bedengan mengalami kekeringan ekstrem. Ketika akar tidak mampu menyerap air dan nutrisi secara optimal, daun muda yang baru tumbuh akan meresponsnya dengan bentuk yang tidak normal atau mengeriting.
Langkah pemulihan di kebun melibatkan perbaikan manajemen air secara disiplin dengan menyiram kangkung dua kali sehari setiap pagi dan sore hari secara konsisten. Pengendalian hama dilakukan secara mekanis dengan memangkas daun yang terserang berat dan menjaga kebersihan gulma di sekitar area penanaman agar tidak menjadi tempat persembunyian hama. Untuk penggunaan pengendali kimia, selalu baca label pada kemasan dan konsultasikan dengan petugas penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian setempat.