Untuk mengatasi masalah ini, pembuatan bedengan atau guludan dengan tinggi minimal 30 hingga 40 cm dan lebar 80 cm sangat dianjurkan guna memastikan air hujan cepat mengalir. Jarak antar guludan atau parit drainase selebar 40 cm harus dipastikan bebas dari sumbatan. Pemberian pembenah tanah seperti kapur pertanian atau dolomit sebanyak 1,5 hingga 2 ton per hektar sebelum tanam sangat penting untuk menjaga pH tanah tetap ideal di angka 6,0 hingga 6,8, karena kondisi tanah yang asam memicu perkembangan pesat jamur patogen.
Aplikasi agens hayati berupa Trichoderma spp. secara berkala menjadi langkah pencegahan hayati yang sangat efektif. Sebanyak 20 hingga 50 gram agens hayati yang dicampur dengan 10 kg pupuk kandang matang dapat disebar pada lubang tanam 7 hari sebelum benih ditanam. Pemupukan nitrogen sintetis yang berlebihan saat musim hujan juga harus dikurangi setidaknya 30 persen, karena nitrogen berlebih membuat jaringan batang dan akar kacang panjang menjadi terlalu sukulen dan rentan terinfeksi patogen.
Apabila gejala busuk akar sudah parah dan menyebar lebih dari 15 persen dari populasi lahan, pemusnahan tanaman terinfeksi harus segera dilakukan. Cabut tanaman hingga ke akarnya, masukkan ke dalam wadah tertutup, dan musnahkan di luar area perkebunan guna mencegah spora jamur terbawa arus air hujan. Sanitasi lahan yang ketat dipadukan dengan rotasi tanaman bukan famili legum selama 1 hingga 2 musim tanam akan memutus siklus hidup patogen pembusuk akar ini secara menyeluruh.