Penyiraman yang tidak konsisten selama musim kemarau juga memperparah stres fisiologis pada tanaman kacang panjang. Tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup, yakni sekitar 500 hingga 600 mililiter per tanaman setiap sore hari agar proses transpirasi dan penyerapan nutrisi dari dalam tanah tetap optimal. Ketika tanah mengalami kekeringan ekstrem, akar gagal menyerap unsur hara penting seperti kalsium dan boron, yang berakibat langsung pada deformasi atau keritingnya daun-daun muda di pucuk tanaman.
Langkah penanganan harus disesuaikan dengan diagnosis yang tepat di lapangan, mulai dari pembersihan gulma inang di sekitar pertanaman hingga pemasangan perangkap lekat berwarna kuning untuk menekan populasi hama dewasa. Jika serangan hama sudah melewati batas ambang ekonomi, lakukan penyemprotan pengendali organik berbahan dasar nabati secara rutin setiap minggu pada pagi hari sebelum pukul sembilan. Selalu perhatikan kebersihan alat pertanian dan cuci tangan setelah merawat tanaman agar tidak menjadi agen penular virus antarpetak.
Pencegahan jangka panjang dapat dilakukan dengan menerapkan sistem pergiliran tanaman menggunakan komoditas dari familia bukan kacang-kacangan untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit. Penambahan pupuk kandang matang sebanyak satu kilogram per lubang tanam saat pengolahan lahan juga sangat membantu menjaga kelembapan tanah dan ketersediaan hara makro maupun mikro. Dengan manajemen budidaya yang disiplin dan tepat sasaran, tanaman kacang panjang akan kembali pulih, menghasilkan polong yang lebat, serta memberikan hasil panen yang memuaskan.