Selain kerusakan fisik akibat hama, serangan serangga pengisap ini sering kali membawa ancaman yang lebih serius, yaitu penularan Cowpea Aphid-borne Mosaic Virus (CAMV) atau virus kuning. Infeksi virus berwujud daun membalik, kaku, mengerut, serta muncul belang kekuningan (mosaik). Jika infeksi terjadi pada umur tanaman di bawah 20 hari setelah tanam, potensi kehilangan hasil panen dapat mencapai 70 hingga 100 persen karena tanaman menjadi kerdil dan gagal membentuk polong.
Langkah penanganan awal dimulai dengan sanitasi lahan secara ketat, yaitu mencabut dan memusnahkan tanaman yang sudah terinfeksi parah agar tidak menjadi sumber penularan bagi tanaman sehat di sekitarnya. Pengairan harus dijaga secara teratur, idealnya 2 kali sehari pada pagi sebelum pukul 08.00 dan sore hari setelah pukul 16.00 dengan volume sekitar 1 hingga 1,5 liter per lubang tanam untuk mengurangi stres kekeringan yang memperparah gejala keriting.
Pemasangan perangkap pelekat kuning sebanyak 40 hingga 50 lembar per hektar sangat efektif untuk memantau dan menekan populasi vektor hama di areal pertanaman. Apabila populasi hama melampaui ambang kendali, penyemprotan agens hayati seperti jamur entomopatogen atau pestisida nabati dapat dilakukan setiap 3 hingga 5 hari sekali pada sore hari. Pastikan Anda merotasi jenis bahan aktif dan selalu berkonsultasi dengan petugas penyuluh lapangan setempat.






