Pada musim kemarau dengan suhu udara di atas 30 derajat Celsius, hama penghisap seperti kutu daun hitam (Aphis craccivora) dan thrips berkembang sangat pesat. Kutu daun menyerang pucuk muda dan pucuk bunga, menyerap cairan sel hingga daun menggulung ke bawah serta mengeluarkan embun madu yang memicu jamur jelut. Jika ditemukan lebih dari 5 ekor kutu per pucuk pada 10 persen populasi tanaman, tindakan pembersihan dan penyemprotan hayati harus segera dijalankan.
Memasuki musim hujan, intensitas serangan penggerek polong (Maruca vitrata) dan ulat grayak (Spodoptera litura) meningkat signifikan. Ulat penggerek masuk ke dalam polong muda dan membuat lubang berukuran 1-2 mm yang dipenuhi kotoran, menyebabkan penurunan hasil panen hingga 60-80 persen. Pengendalian fisik berupa pemetikan polong terserang setiap 2 hari sekali serta pemasangan perangkap lampu pada malam hari sangat efektif menekan populasi ngengat dewasa.
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) mensyaratkan rotasi tanaman dengan famili non-legum seperti jagung atau sawi selama 4 hingga 6 minggu setelah panen. Selain itu, pasang perangkap pelekat kuning sebanyak 15 sampai 20 lembar per hektar pada ketinggian 30 cm di atas tajuk tanaman. Penggunaan pestisida sintetis hendaknya menjadi langkah terakhir jika tindakan biologis dan mekanis tidak lagi menahan lonjakan populasi hama.






