Penyebab pertama yang paling sering ditemui saat musim kemarau adalah serangan hama kutu-kutuan seperti thrips dan tungau. Hama ini berukuran sangat kecil dan bersembunyi di balik daun muda, mengisap cairan sel daun hingga pertumbuhannya terhambat dan menggulung ke atas atau ke bawah. Jika dibiarkan, populasi mereka akan meledak dalam waktu seminggu dan menularkan virus kuning Gemini yang membuat daun keriting parah disertai corak belang kuning hijau.
Faktor lingkungan seperti kekurangan kalsium atau kekurangan air tanah juga memicu gejala daun melinting mirip keriting karena jaringan daun tidak berkembang sempurna. Di musim kemarau terik, suhu yang terlalu panas di atas 35 derajat Celsius membuat tanaman cabai mengalami stres fisiologis yang menghentikan pembentukan klorofil dan memicu keriting pada pucuk daun muda. Oleh karena itu, kita harus jeli membedakan ciri fisik keriting akibat hama, virus, maupun sekadar cuaca.
Untuk mengatasi daun cabai keriting penyebab yang sudah diidentifikasi, lakukan penanganan terpadu secara konsisten setiap minggu. Bersihkan gulma di sekitar bedengan yang sering menjadi tempat persembunyian hama, gunakan mulsa plastik hitam perak untuk memantulkan cahaya matahari dan mengusir thrips, serta berikan tambahan nutrisi mikro melalui penyemprotan pupuk daun yang kaya kalsium pada pagi hari sebelum pukul sembilan.