Memasuki fase generatif atau pembungaan pada usia 35 hingga 60 hari setelah tanam, kebutuhan hnutrisi tanaman bergeser dari nitrogen ke unsur hara fosfor dan kalium. Pada periode ini, kurangi pemberian nitrogen dan tingkatkan porsi fosfor serta kalium untuk mencegah kerontokan bunga serta merangsang pembentukan bakal buah. Lakukan pemupukan susulan setiap minggu dengan cara dikocor di sekitar perakaran tanaman menggunakan takaran yang disesuaikan dengan kesuburan tanah setempat.
Saat tanaman memasuki fase pembuahan aktif dan panen berulang mulai usia 65 hari hingga akhir masa produktif, frekuensi pemupukan harus dijaga secara konsisten setiap 5 hingga 7 hari sekali. Tanaman cabai rawit membutuhkan pasokan kalium dan kalsium yang tinggi selama masa pembuahan untuk memastikan ukuran buah maksimal, kulit mengkilap, dan mencegah ujung buah busuk akibat defisiensi kalsium. Kombinasikan pupuk akar dengan penyemprotan pupuk daun mikro pada pagi hari untuk mendukung ketahanan fisik buah terhadap cuaca ekstrem.
Pemberian pupuk di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi cuaca, di mana pada musim hujan pemupukan sebaiknya dilakukan dengan metode kocor untuk menghindari pencucian oleh air hujan lebat. Sebaliknya, pada musim kemarau panjang, pastikan tanah disiram terlebih dahulu sebelum pupuk diaplikasikan agar akar tanaman tidak mengalami plasmolisis atau terbakar akibat kepekatan zat hara. Selalu perhatikan dosis dan waktu aplikasi yang tepat agar efisiensi pemupukan tercapai tanpa merusak ekosistem tanah dalam jangka panjang.