Untuk membedakan penyebabnya, perhatikan arah lengkungan daun. Serangan hama Thrips menyebabkan tepi daun keriting melengkung ke atas menyerupai mangkuk, dilengkapi bercak keperakan atau cokelat keemasan di permukaan bawah daun. Sebaliknya, serangan tungau (mites) mengakibatkan daun melengkung ke bawah, teksturnya terasa kaku, menebal, dan berwarna kecokelatan di bagian bawah. Pengocoran air sebanyak 2 hingga 3 liter per tanaman secara teratur dapat membantu menekan populasi tungau yang membenci kelembapan tinggi.
Penyebab lain yang tak kalah merugikan adalah kutu daun dan virus kuning (Geminivirus). Kutu daun mengisap cairan sel hingga daun menggulung tidak teratur dan mengeluarkan embun madu yang memicu jamur embun jelut. Sementara itu, jika kutu kebul menularkan Geminivirus, tulang daun akan memucat, diikuti warna kuning terang mendominasi seluruh helai daun serta tanaman menjadi kerdil. Tanaman yang terinfeksi virus ini harus segera dicabut dan dimusnahkan dalam waktu 24 jam agar tidak menulari tanaman sehat di sekitarnya.
Pencegahan terpadu pada musim kemarau memerlukan kombinasi sanitasi lahan dan manajemen nutrisi. Pemasangan perangkap pelekat kuning sebanyak 40 hingga 50 lembar per hektar atau 2 lembar per 10 meter persegi sangat efektif menekan populasi serangga dewasa. Selain itu, pembersihan gulma pada radius 2 meter di sekitar bedengan dan pengaturan penyiraman sebanyak 1 hingga 2 liter per tanaman setiap 2 hari sekali akan menjaga ketahanan fisik cabai rawit. Kurangi porsi pupuk Nitrogen hingga 20 persen saat kemarau untuk mencegah daun tumbuh terlalu lunak dan disukai hama.






