Selain faktor serangan hama, daun keriting pada cabai rawit juga sangat erat kaitannya dengan manajemen penyiraman yang kurang tepat. Di musim kemarau, penguapan air dari dalam tanah dan jaringan tanaman terjadi sangat cepat, sehingga tanaman sering mengalami cekaman kekeringan atau water stress. Ketika suplai air tidak mencukupi, akar tanaman gagal menyerap nutrisi penting seperti kalsium dan boron dari dalam tanah. Ketidakseimbangan nutrisi ini memicu deformasi pada pucuk daun baru yang keluar, membuatnya tampak kaku, kecil, dan berkerut parah sebelum sempat berkembang penuh.
Untuk mendiagnosis secara akurat, pekebun harus memeriksa bagian bawah daun dengan teliti menggunakan kaca pembesar sederhana. Jika ditemukan koloni serangga sangat kecil berwarna hijau, hitam, atau putih yang bergerak lambat, maka penyebab utamanya adalah hama pengisap. Namun, jika tidak ditemukan tanda-tanda kehadiran serangga sama sekali namun daun tetap kaku dan mengeriting, masalahnya lebih condong pada kombinasi kekurangan air, paparan terik matahari langsung yang berlebihan, serta defisiensi hara mikro. Mengenali perbedaan ini sangat menentukan ketepatan langkah penanganan di lapangan agar tidak salah dalam memilih metode pemulihan.
Langkah pemulihan awal yang wajib dilakukan adalah memulihkan kelembapan mikro di sekitar tanaman cabai rawit dengan cara menyiram secara rutin sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Lakukan pemupukan susulan dengan pupuk organik cair yang kaya unsur hara makro dan mikro untuk memulihkan vigor tanaman yang stres. Untuk penanganan hama secara kimiawi, selalu baca petunjuk pada label kemasan produk dan konsultasikan dengan petugas penyuluh pertanian lapangan atau mantri tani di BPP terdekat agar mendapatkan rekomendasi jenis bahan aktif yang tepat sasaran dan aman bagi lingkungan.