Buncis, Hama Tanaman Buncis dan Cara Pengendaliannya secara Terpadu
Mustafa Akın / Pexels

Hama Tanaman Buncis dan Cara Pengendaliannya secara Terpadu

Identifikasi dan kendalikan hama utama tanaman buncis sejak fase bibit hingga panen dengan metode diagnosis diferensial yang tepat.

Jawaban singkat

Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) merupakan salah satu komoditas sayuran polong yang dibudidayakan secara luas di Indonesia, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sepanjang tahun. Tanaman ini memiliki rentang masa tanam yang relatif singkat, yaitu sekitar 50 sampai 60 hari hingga panen pertama. Namun, produktivitas buncis sering kali turun drastis hingga 50 persen akibat serangan berbagai jenis hama, mulai dari fase awal perkecambah pada umur 7 hingga 14 hari setelah tanam (HST) sampai fase pembentukan polong pada umur 40 HST.

Ringkas: Buncis

Cahaya
Membutuhkan sinar matahari penuh (minimal 6 jam/hari).
Penyiraman
Siram 2 kali sehari saat kemarau, 1 kali saat hujan. Jaga tanah lembab tapi tidak tergenang.
Musim
Tanam sepanjang tahun, hindari musim hujan deras untuk mengurangi risiko penyakit jamur.
Tingkat Kesulitan
Mudah

Buncis sensitif terhadap genangan air, pastikan drainase baik.

Pola serangan hama buncis sangat dipengaruhi oleh perubahan musim di wilayah tropis Indonesia. Pada musim kemarau, penurunan kelembapan udara mendorong lonjakan populasi hama penghisap seperti kutu daun dan tungau merah yang berpotensi menyebarkan virus kuning. Sebaliknya, pada musim hujan dengan curah hujan tinggi dan kelembapan di atas 80 persen, populasi lalat bibit serta ulat grayak menjadi lebih ganas karena tanah yang basah mendukung perkembangan pupa hama di dalam tanah.

Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi kunci utama dalam menjaga keberhasilan panen buncis tanpa merusak ekosistem lahan. Langkah sanitasi lingkungan perlu dilakukan dengan membersihkan gulma dan sisa tanaman Fabaceae dalam radius minimal 3 meter dari bedengan. Pemasangan perangkap warna kuning berperekat sebanyak 40 hingga 50 lembar per hektar terbukti efektif menekan populasi lalat bibit dan kutu dewasa sebelum mereka bertelur di jaringan daun muda.

Untuk tindakan pencegahan harian, petani dapat mengaplikasikan ekstrak daun mimba atau biji mahoni secara berkala setiap 5 hingga 7 hari sekali pada pagi hari pukul 06.00 sampai 08.00 WIB. Penggunaan sarana kimia sintetis harus dijadikan pilihan terakhir jika populasi hama melebihi ambang ekonomi, serta wajib mengacu pada saran penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat demi keamanan produk panen dan konsumen.

Penyebab & Cara Mengatasi

Lalat Bibit (Ophiomyia phaseoli)

Ciri: Terdapat alur bekas gigitan berwarna putih pada daun lembaga, pangkal batang bawah membengkak lalu pecah berwarna cokelat, dan bibit berumur 1 hingga 3 minggu layu mendadak.

Solusi: Bakar sisa tanaman terinfeksi, tutup tanah sekitar pangkal batang dengan mulsa atau tanah kering, dan pasang perangkap kuning berperekat sejak sebelum tanam.

Kutu Daun (Aphis craccivora)

Ciri: Kumpulan serangga kecil berwarna hitam atau hijau bergerombol di pucuk muda dan pucuk polong, daun mengkerut keriting, serta muncul lapisan embun jelaga hitam.

Solusi: Semprot tanaman dengan air bertekanan sedang untuk menjatuhkan kutu, aplikasikan larutan sabun kalium atau ekstrak mimba, dan pangkas daun yang tertutup embun jelaga.

Penggerek Polong (Maruca testulalis)

Ciri: Polong muda hingga tua berlubang kecil, terdapat gumpalan kotoran menyerupai serbuk kayu di luar lubang, dan polong menjadi bentuk bengkok atau busuk.

Solusi: Petik dan musnahkan polong yang berlubang, pasang perangkap feromon sex jika tersedia, dan lakukan pemangkasan daun berlebih agar kanopi tanaman tidak terlalu rimbun.

Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Ciri: Daun buncis berlubang tidak teratur dalam jumlah banyak, tersisa tulang daun, dan ditemukan ulat berwarna cokelat kehitaman bersembunyi di balik daun atau tanah saat siang.

Solusi: Kumpulkan ulat secara manual pada pagi atau malam hari, manfaatkan agen hayati berbasis bakteri Bacillus thuringiensis, serta jaga kebersihan gulma sekitar bedengan.

Langkah-langkah

  1. Lakukan pemeriksaan rutin pada area pertanaman buncis setiap 3 hari sekali, terutama pada permukaan bawah daun dan area pangkal batang.
  2. Pasang perangkap kuning berperekat sebanyak 40 hingga 50 unit per hektar di sekitar turus buncis sejak tanaman mulai berkecambah.
  3. Lakukan pemangkasan daun tua atau daun terinfeksi pada ketinggian 10 hingga 15 cm dari permukaan tanah untuk mengurangi kelembapan mikro.
  4. Semprotkan pestisida nabati secara merata ke seluruh permukaan daun pada pagi atau sore hari saat kondisi cuaca tidak hujan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa bibit buncis yang baru tumbuh tiba-tiba layu dan batangnya membengkak?

Gejala tersebut menandakan serangan lalat bibit (Ophiomyia phaseoli). Larva lalat menggerek batang buncis dari dalam hingga saluran nutrisi terputus dan batang membengkak.

Bagaimana cara membedakan serangan ulat grayak dan penggerek polong pada buncis?

Ulat grayak memakan helai daun hingga berlubang besar atau tersisa tulang daun, sedangkan penggerek polong khusus melubangi polong buncis dan meninggalkan serbuk kotoran di luar lubang.

Apakah mulsa plastik efektif mencegah hama lalat bibit buncis?

Sangat efektif. Pantulan cahaya dari mulsa perak membingungkan lalat bibit dewasa sehingga enggan hinggap dan bertelur pada pangkal batang buncis muda.

Kapan waktu terbaik menyemprotkan pestisida nabati untuk hama buncis?

Waktu terbaik adalah pagi hari antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB atau sore hari setelah pukul 15.30 WIB ketika suhu udara tidak terlalu panas dan hama mulai aktif.

Apakah polong buncis yang pernah tertutup embun jelaga masih aman dikonsumsi?

Masih aman dikonsumsi asalkan polong tidak membusuk. Cuci bersih polong dengan air mengalir dan sabun khusus pencuci sayur sebelum dimasak.

Lebih lanjut tentang Buncis

Panduan terkait

Hama & Pengendalian, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.