Serangan penyakit umumnya mulai tampak sejak fase vegetatif umur 14 sampai 21 hari setelah tanam hingga fase generatif pembentukan polong pada umur 45 sampai 60 hari setelah tanam. Gejala dapat muncul berupa bercak daun, karat, hingga kelayuan sistemik pada jaringan pembuluh tanaman.
Penurunan hasil panen akibat penyakit buncis yang terlambat ditangani dapat mencapai 50% hingga 80%, terutama jika sistem drainase lahan buruk dan jarak tanam terlalu rapat kurang dari 40 cm x 50 cm. Oleh karena itu, pengamatan rutin sangat diperlukan untuk menentukan tindakan korektif secara dini.
Pengendalian penyakit buncis secara efektif di wilayah iklim tropis Indonesia memerlukan kombinasi sanitasi lahan harian, pemangkasan daun tua seminggu sekali, pembuatan guludan setinggi 30 cm, serta penggunaan bahan pelindung tanaman yang sesuai dengan anjuran teknis.






