Selain faktor kekurangan air, cuaca panas yang kering di siang hari sangat disukai oleh hama kecil seperti tungau merah dan kutu kebul yang bersembunyi di balik helaian daun serai. Hama-hama ini menusuk jaringan daun dan menghisap cairan sel, sehingga permukaan daun menjadi bergelombang, keriting, berubah warna menjadi kekuningan, dan akhirnya rontok sebelum waktunya. Apabila kita menemukan adanya koloni hama atau jaring halus di balik daun, maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan secara mekanis maupun biologis sebelum populasi mereka meledak dan merusak seluruh rumpun.
Untuk mengatasi masalah daun serai keriting akibat kemarau, kita wajib meningkatkan frekuensi penyiraman menjadi minimal sekali sehari pada pagi atau sore hari, serta memberikan lapisan mulsa organik seperti jerami padi setebal lima sentimeter di sekeliling rumpun untuk menekan penguapan air. Pemupukan susunan organik berupa kompos matang sebanyak satu hingga dua kilogram per rumpun setiap dua bulan sekali juga sangat dianjurkan guna memperbaiki struktur tanah agar lebih mampu mengikat air dan nutrisi makro seperti nitrogen dan kalium yang dibutuhkan untuk pemulihan daun.
Jika gejala keriting terus berlanjut meskipun penyiraman telah rutin dilakukan, lakukan pemangkasan total pada daun serai yang terserang parah hingga menyisakan batang setinggi sepuluh sentimeter dari permukaan tanah pada awal musim hujan atau saat cuaca mulai teduh. Langkah pemangkasan ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan tunas baru yang jauh lebih sehat dan bersih dari sisa serangan hama, sekaligus membuang sumber inokulum penyakit yang mungkin masih menempel pada jaringan daun lama yang sudah rusak.