Secara morfologi, daun yang berkeriting tidak hanya mengurangi luas permukaan fotosintesis, tetapi juga menghambat pembentukan umbi di dalam tanah. Apabila tidak segera ditangani sejak awal fase vegetatif pada usia 15 hingga 30 hari setelah tanam, potensi hasil panen dapat merosot hingga lebih dari separuhnya. Oleh karena itu, identifikasi visual yang teliti terhadap bentuk keriting dan pola serangan sangat menentukan keberhasilan pemulihan tanaman.
Pendekatan diagnosis diferensial sangat penting dilakukan untuk membedakan apakah keriting tersebut berasal dari serangan hama kutu-kutuan, penyakit tular virus, atau sekadar defisiensi hara kalsium dan boron. Setiap penyebab meninggalkan jejak yang khas pada helaian daun, mulai dari bercak kuning, penebalan tulang daun, hingga puntiran ekstrem pada pucuk muda. Dengan mengenali ciri spesifik ini, langkah penanganan yang diberikan bisa tepat sasaran tanpa membuang waktu dan biaya.
Langkah pengendalian di lapangan harus memadukan praktik sanitasi lahan yang bersih, pengaturan irigasi curah secara berkala di musim kemarau, serta pemupukan berimbang. Jika ditemukan indikasi serangan hama atau patogen berat, pemanfaatan musuh alami dan kepatuhan terhadap petunjuk pada label kemasan produk pengendali hama resmi di bawah bimbingan petugas BPP sangat dianjurkan demi keamanan lingkungan dan hasil panen yang sehat.