Pengamatan rutin sangat diperlukan untuk mencegah penurunan hasil panen yang signifikan. Petani disarankan melakukan pemeriksaan kondisi rumpun sekurang-kurangnya 2 kali seminggu dengan mengecek bagian seludang daun serta pangkal akar serai. Jika rumpun dibiarkan terlalu rimbun tanpa penjarangan selama lebih dari 60 hari, mikroklimat di dalam rumpun menjadi sangat lembap dan menjadi sarang ideal bagi berbagai jenis serangga perusak. Pengendalian yang terlambat dapat menyebabkan kelayuan sistemik hingga kematian satu rumpun utuh.
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan terbaik dalam merawat serai. Pembersihan sanitasi lahan harus dilakukan setiap 30 hari sekali dengan memangkas daun-daun tua yang menjuntai ke tanah serta mencabut gulma di sekitar jarak tanam 75x75 cm. Langkah mekanis ini secara efektif mampu menekan populasi telur dan larva hama hingga 40% sebelum mereka berkembang biak menjadi koloni yang lebih besar dan merusak.
Apabila populasi hama mulai melewati ambang batas ekonomi, pemanfaatan pestisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau minyak serai konsentrasi rendah dapat diaplikasikan setiap 7 hingga 10 hari sekali. Penggunaan bahan kimia sintetis hendaknya menjadi pilihan terakhir yang dilakukan secara bijak. Pastikan selalu berkonsultasi dengan petugas penyuluh pertanian lapangan untuk mendapatkan arahan teknis yang sesuai dengan kondisi spesifik wilayah Anda.






