Thrips (Thrips tabaci) adalah penyebab paling umum. Ciri khasnya: daun tampak keriting, mengerut, berwarna keperakan atau bercak putih keperakan, dan ada titik-titik hitam (kotoran thrips). Serangan biasanya dimulai dari daun muda. Thrips aktif di musim kemarau karena cuaca kering mendukung perkembangbiakannya. Solusi: lakukan penyiraman secara teratur (2-3 hari sekali) untuk menjaga kelembaban, karena thrips tidak suka lembab. Gunakan mulsa jerami untuk menekan populasi. Jika perlu, aplikasikan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau konsultasikan dengan BPP setempat.
Penyakit Trotol (jamur Alternaria porri) atau Fusarium juga bisa menyebabkan daun keriting. Trotol ditandai dengan bercak ungu kecoklatan pada daun yang kemudian mengering dan menyebabkan daun melintir. Fusarium menyebabkan daun menguning, layu, dan keriting dari pangkal. Kedua penyakit ini lebih sering muncul saat kelembaban tinggi, tapi bisa terjadi di kemarau jika ada embun atau irigasi berlebihan. Solusi: perbaiki drainase, jangan terlalu basah. Lakukan rotasi tanaman dengan bukan bawang-bawangan (minimal 2 tahun). Untuk pengendalian kimia, konsultasikan dengan penyuluh pertanian.
Kekurangan kalium (K) juga memicu daun keriting, terutama di lahan pasir atau lahan yang sudah ditanam terus menerus. Ciri: daun tua menguning di tepi, lalu mengering dan keriting ke bawah. Bedakan dengan thrips: tidak ada bercak keperakan atau kotoran hitam. Solusi: berikan pupuk KCL atau KNO3 sesuai dosis anjuran (biasanya 100-150 kg/ha). Aplikasi pada umur 15 dan 30 HST. Lakukan uji tanah jika perlu. Jangan lupa imbangi dengan pupuk N dan P agar tidak defisiensi.