Penyebab utama dari gejala ini bisa dibagi menjadi dua faktor utama, yaitu serangan organisme pengganggu tumbuhan berupa hama kutu-kutuan dan gangguan fisiologis akibat cekaman kekeringan serta ketidakseimbangan nutrisi. Pada musim kemarau, hama seperti tungau dan kutu kebul sangat cepat berkembang biak karena siklus hidupnya memendek pada suhu tinggi. Mereka menusuk jaringan daun dan mengisap cairan sel, menyebabkan daun mengerut, menebal, atau melengkung ke atas maupun ke bawah.
Untuk mengatasi masalah ini secara efektif, lakukan penyiraman secara rutin sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari guna menjaga kelembapan mikro di sekitar rumpun jahe. Jika serangan hama sudah terlihat pada lebih dari sepuluh persen populasi tanaman, lakukan pemangkasan daun yang terserang berat agar tidak menjadi sumber penularan bagi tunas baru. Bersihkan gulma di sekitar pangkal batang setiap dua minggu sekali karena gulma sering menjadi tempat persembunyian utama bagi hama pengisap daun.
Pencegahan jangka panjang dapat dilakukan dengan memberikan pupuk organik matang sebanyak satu hingga dua kilogram per rumpun setiap tiga bulan sekali untuk memperbaiki struktur tanah dan kapasitas simpan air. Penggunaan naungan parsial dengan intensitas cahaya sekitar empat puluh hingga lima puluh persen juga sangat membantu menurunkan suhu ekstrem di lahan jahe saat puncak musim kemarau. Selalu pantau kondisi kebun secara berkala agar tindakan penanganan bisa diambil sebelum kerusakan menyebar luas ke seluruh bedengan.