Serangan hama penyedot cairan seperti kutu daun (aphid), thrips, dan tungau merah menjadi pemicu utama kerusakan fisik daun kemangi. Hama-hama kecil ini menusuk jaringan daun muda pada frekuensi 2 hingga 3 hari sekali dan menyedot cairan sel, sehingga menyebabkan daun tumbuh kerdil, melengkung, dan bertekstur kasar. Jika dibiarkan selama 1 hingga 2 minggu tanpa penanganan, populasi hama dapat melonjak hingga lima kali lipat dan menulari seluruh areal pertanaman.
Penanganan awal dapat dilakukan dengan penyemprotan air bertekanan sedang sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada pukul 07.00 pagi dan 16.00 sore, untuk merontokkan kutu secara mekanis. Selain itu, pemberian mulsa organik berupa jerami atau sabut kelapa setebal 3 hingga 5 sentimeter di sekitar pangkal batang sangat efektif menjaga kelembapan tanah, sehingga suhu media tanam tetap stabil di bawah 28 derajat Celsius meski terik matahari menyengat.
Untuk pencegahan jangka panjang selama musim kemarau, pemupukan berimbang perlu diterapkan dengan memberikan kompos matang sebanyak 200 hingga 300 gram per lubang tanam setiap 14 hari sekali. Hindari penggunaan pupuk nitrogen dosis tinggi secara berlebihan karena dapat membuat jaringan daun terlalu sukulen dan makin disukai oleh hama penyedot cairan. Lakukan perempelan pada daun yang terinfeksi berat setiap 7 hari sekali untuk memutus siklus hidup hama.






