Selain faktor lingkungan, hama pengisap seperti thrips, tungau merah, dan kutu daun berkembang sangat cepat pada kondisi kering dan hangat. Populasi thrips dapat berlipat ganda dalam waktu 7 hingga 10 hari pada musim kemarau. Hama-hama ini menusuk dan mengisap cairan sel daun muda lengkuas, menyebabkan sel-sel permukaan daun tumbuh tidak seimbang sehingga daun melengkung, mengkerut, dan tumbuh tidak sempurna.
Serangan hama pengisap yang tidak terkendali juga berisiko menularkan virus lokal yang menyebabkan penyakit mosaik atau keriting permanen. Jika tanaman kekurangan air berlarut-larut selama lebih dari 2 minggu tanpa penyiraman, sistem perakaran rimpang lengkuas akan memperlambat penyerapan hara, membuat daun muda menyusut dan menguning di bagian pinggirnya sebelum akhirnya mengering total.
Solusi terpadu meliputi pemberian air secara teratur sebanyak 2 sampai 3 kali seminggu pada pagi hari dengan volume 3 hingga 5 liter per rumpun. Penambahan mulsa jerami padi setebal 5 hingga 10 cm di sekitar piringan rimpang sangat efektif menjaga kelembapan tanah. Pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah per hektar serta pemangkasan daun yang terinfeksi parah dapat menekan populasi hama pengisap secara signifikan.






