Meskipun demikian, masalah kelayuan pada kunyit tidak selalu disebabkan oleh faktor fisiologis kekeringan belaka. Infeksi patogen tanah seperti bakteri Ralstonia solanacearum dan jamur Pythium sp. sering kali menyumbat jaringan pembuluh vaskuler rumpun tanaman. Akibatnya, tanaman tetap menunjukkan gejala layu dan menguning meskipun tanah di sekitar perakaran terlihat basah atau lembap.
Untuk mendiagnosis penyebabnya secara tepat, petani dan pekebun perlu mengamati pola kelayuan setidaknya seminggu sekali. Jika kelayuan terjadi serempak pada siang hari dan daun kembali segar pada malam atau pagi hari, hal tersebut merupakan respons transpirasi normal. Kondisi ini dapat diringankan dengan meletakkan mulsa organik berupa jerami atau daun kering setebal 5 hingga 10 cm di atas permukaan bedengan.
Pencegahan kerusakan lebih lanjut memerlukan tindakan sanitasi lahan yang ketat, termasuk membongkar dan memusnahkan rumpun yang terinfeksi berat. Pengaplikasian pupuk organik matang sebanyak 10 hingga 15 ton per hektar sebelum masa tanam serta penggunaan agen hayati antagonis secara rutin setiap 14 hari sangat efektif membangun ketahanan alami rimpang kunyit dari serangan patogen parasitik.






