Kendati demikian, penyebab kemangi layu tidak selalu karena kekurangan air atau kekeringan semata. Penyiraman yang terlalu berlebihan di media tanam yang padat juga dapat merusak sistem perakaran, memicu pembusukan, dan menghambat penyerapan nutrisi sehingga gejala luar yang terlihat justru menyerupai tanaman yang kehausan. Selain itu, serangan patogen tular tanah seperti cendawan Fusarium oxysporum dan bakteri Ralstonia solanacearum sering kali menginfeksi pembuluh vaskular tanaman kemangi, menyebabkan penyumbatan jalur air yang berujung pada kelayuan permanen.
Untuk mendiagnosis masalah ini secara akurat, lakukan pemeriksaan rutin sebanyak dua kali sehari, yaitu pada pukul 08.00 pagi dan 14.00 siang. Apabila tanaman kemangi tampak layu di siang bolong namun kembali segar secara alami pada sore atau pagi hari berikutnya, hal tersebut menandakan stres panas sementara. Namun, jika kemangi tetap layu meskipun tanah di sekitarnya terasa basah dan lembap, maka kemungkinan besar tanaman mengalami pembusukan akar atau infeksi patogen vaskular yang membutuhkan tindakan sanitasi segera.
Pengelolaan media tanam yang ideal untuk kemangi melibatkan pencampuran tanah, pupuk kandang matang, dan arang sekam dengan perbandingan 2:1:1 untuk menjamin drainase serta aerasi yang baik. Lakukan penyiraman secara teratur sebanyak 1 hingga 2 kali sehari dengan volume sekitar 250 hingga 500 mililiter per pot ukuran sedang pada pagi hari sebelum pukul 09.00. Pemberian mulsa organik seperti jerami setebal 2 hingga 3 sentimeter di atas permukaan tanah juga sangat efektif menekan penguapan air selama musim kemarau.






