Layu bakteri ditandai dengan daun menguning mendadak, layu permanen meski tanah lembap, dan jika batang dipotong akan keluar lendir bakteri berwarna putih keruh. Penyakit ini menyebar melalui air, tanah, dan alat pertanian. Pada jahe, infeksi biasanya masuk melalui luka akar akibat nematoda atau cangkul. Di musim kemarau, penyakit ini tetap aktif jika ada sumber air irigasi yang terkontaminasi.
Layu fusarium gejalanya lebih lambat: daun menguning dari bawah ke atas, layu bertahap, dan pangkal batang membusuk kering (tidak berlendir). Jika umbi dibelah, terlihat jaringan berwarna cokelat keunguan. Fusarium bertahan di tanah dan sisa tanaman. Kekeringan memperparah serangan karena tanaman stres. Layu fisiologis akibat kekurangan air: daun menggulung di siang hari, segar kembali saat sore atau setelah disiram, tanpa gejala busuk atau lendir.
Untuk memastikan diagnosis, ambil sampel tanaman sakit ke BPP setempat untuk uji laboratorium. Sementara itu, segera isolasi tanaman sakit dengan mencabut dan membakar (jangan dibuang di sembarang tempat). Untuk layu bakteri, kapur lahan dengan dolomit 2-4 minggu sebelum tanam, gunakan benih sehat bersertifikat, dan lakukan rotasi dengan tanaman bukan solanaceae (misal jagung, kacang-kacangan) minimal 2 tahun. Untuk fusarium, perbaiki drainase, gunakan kompos matang, dan hindari cekaman kekeringan dengan mulsa jerami setebal 5-10 cm. Untuk layu fisiologis, siram rutin 2-3 hari sekali saat kemarau, beri mulsa, dan jangan sampai tanah retak-retak.