Selain kekurangan air, kondisi tanah yang terlalu padat dan bersuhu tinggi di atas 32 derajat Celsius selama musim kemarau dapat merusak perakaran halus kunyit. Kondisi stres abiotik ini diperparah oleh munculnya populasi hama oportunis seperti tungau merah yang berkembang pesat pada kelembapan udara di bawah 50 persen. Serangan hama ini menyerap cairan sel daun secara masif, mengakibatkan timbulnya bercak kekuningan yang merata dari daun bagian bawah hingga ke pucuk muda.
Penyebab fatal lain yang sering terabaikan adalah infeksi jamur atau bakteri penyebab layu rimpang yang terpicu oleh penyiraman berlebihan pasca-kekeringan. Ketika petani mendadak memberikan air sebanyak 5 hingga 10 liter per meter persegi pada tanah yang sangat kering, perlukaan pada akar akibat kekeringan menjadi pintu masuk patogen tanah. Hal ini menyebabkan pembusukan rimpang di dalam tanah yang gejalanya ditandai dengan daun menguning secara mendadak diikuti pelayuan permanen.
Untuk memulihkan tanaman kunyit yang mengalami penguningan daun di musim kemarau, tindakan penyelamatan harus dilakukan secara bertahap selama 2 hingga 3 minggu. Pengaturan jadwal penyiraman sebanyak 2 hari sekali pada pagi hari sebelum pukul 08.00 WIB, pemberian mulsa organik setebal 5 cm, serta pemangkasan daun yang telah kering total akan membantu tanaman memfokuskan energi pada pemulihan rimpang dan pembentukan tunas baru.






