Gejala pembusukan akar umumnya mulai terlihat jelas saat tanaman memasuki fase vegetatif akhir atau awal pembentukan umbi, yaitu sekitar umur 30 hingga 50 hari setelah tanam. Daun bagian bawah akan menguning dari ujung, terkulai, dan akhirnya mengering secara prematur. Ketika tanaman dicabut secara perlahan, akar yang semula berwarna putih segar tampak berubah menjadi cokelat kehitaman, berlendir atau melapuk, serta dengan mudah terlepas dari pangkal batang.
Pengelolaan drainase lahan menjadi kunci utama dalam memutus siklus hidup patogen pembusuk akar di area seluas 1.000 meter persegi. Bedengan harus dibuat lebih tinggi, minimal 30 hingga 40 sentimeter, dengan lebar parit antarbedengan sekitar 40 sentimeter agar air hujan segera mengalir keluar dari perakaran. Selain itu, pemberian dolomit atau kapur pertanian sebanyak 1,5 hingga 2 ton per hektar sebelum tanam sangat penting untuk menjaga stabilitas pH tanah pada kisaran netral 6,0 hingga 6,8.
Aplikasi agen hayati seperti Trichoderma sp. sebanyak 10 hingga 20 gram per lubang tanam saat pemupukan dasar terbukti membantu menekan populasi jamur jahat di dalam tanah secara alami. Pemeriksaan rutin lahan harus dilakukan minimal 2 hari sekali selama musim hujan untuk mencabut dan memusnahkan tanaman yang terinfeksi parah agar spora patogen tidak menulari tanaman sehat di sekitarnya.






