Umbi ditanam dengan jarak tanam 15 x 15 cm pada musim kemarau atau 15 x 20 cm pada musim hujan, benamkan seluruh bagian umbi hingga permukaan rata dengan tanah. Pengairan dilakukan 2 kali sehari (pagi pukul 06.00 dan sore pukul 16.00) pada umur 1 sampai 10 hari setelah tanam (HST) menggunakan gembor atau sistem leb. Pada fase vegetatif aktif (11 sampai 30 HST), frekuensi penyiraman dikurangi menjadi 1 kali sehari, dan pada fase pembentukan umbi (31 sampai 50 HST), pengairan dilakukan selang 1 hingga 2 hari sekali agar tanah tetap lembap namun tidak becek.
Pemupukan susulan pertama diberikan pada 10 hingga 15 HST menggunakan kombinasi pupuk NPK (15-15-15) sebanyak 150 kg per hektar dengan cara ditugal atau disebar di samping barisan tanaman. Pemupukan susulan kedua diberikan pada 30 HST dengan dosis 150 kg NPK ditambah pupuk KCl sebanyak 50 kg per hektar untuk mengoptimalkan pembesaran dan pembentukan aroma umbi. Penyiangan gulma dilakukan secara manual setiap 2 minggu sekali agar tidak terjadi persaingan hara, disertai pendangiran untuk menggemburkan kembali tanah di sekitar rumpun.
Bawang merah siap dipanen pada umur 55 sampai 70 HST ketika 60 hingga 70 persen leher batang telah terkulai, daun menguning, dan umbi menyembul berwarna merah tua. Pencabutan dilakukan dengan hati-hati pada pagi hari saat cuaca cerah, kemudian ikatan bawang dijemur di bawah terpal atau lantai jemur selama 3 sampai 5 hari untuk pelayuan daun. Setelah itu, dilanjutkan dengan pengeringan umbi selama 10 hingga 14 hari sampai kadar air umbi mencapai 80-85 persen agar tahan disimpan hingga 3 bulan.






