Bawang Merah, Panduan Diagnosis dan Pengendalian Hama Utama Tanaman Bawang Merah
Arina Krasnikova / Pexels

Panduan Diagnosis dan Pengendalian Hama Utama Tanaman Bawang Merah

Serangan hama pada tanaman bawang merah dapat dikendalikan secara efektif melalui identifikasi gejala fisik daun serta penerapan teknik pengendalian hama terpadu sejak awal masa tanam.

Jawaban singkat

Serangan hama bawang merah seperti ulat grayak (Spodoptera exigua) dan kutu daun (Thrips tabaci) menjadi ancaman utama bagi petani di Indonesia, terutama pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan dengan suhu udara 28 sampai 32 derajat Celsius. Pada kondisi kelembapan udara di atas 80 persen, laju perkembangbiakan hama meningkat pesat, sehingga pemantauan rutin pada lahan seluas 1.000 meter persegi wajib dilakukan minimal 2 kali seminggu pada pukul 06.00 hingga 08.00 pagi.

Ringkas: Bawang Merah

Cahaya
Sinar matahari penuh (8-10 jam/hari)
Penyiraman
2 kali sehari pada fase awal, 1 kali sehari menjelang panen
Musim
Musim kemarau (Mei - September)
Tingkat Kesulitan
Sedang

Drainase tanah sangat penting; bawang merah menyukai panas terik namun tidak tahan genangan air.

Ulat grayak merusak tanaman dengan cara masuk ke dalam rongga daun bawang merah dan memakan jaringan hijau dari dalam, sehingga menyisakan bercak putih transparan seperti membran tebal. Populasi larva dalam jumlah banyak mampu memutus helai daun dan menurunkan hasil panen hingga 70 persen dalam waktu 3 sampai 5 hari jika tidak ditangani secara mekanis melalui pemetikan kelompok telur bernoda bulu halus putih sebelum menetas.

Hama Thrips dan pengorok daun (Liriomyza chinensis) lebih dominan menyerang pada puncak musim kemarau saat curah hujan sangat rendah. Thrips mengisap cairan sel daun hingga timbul bercak keperakan dan membuat ujung daun meliuk, sedangkan larva pengorok daun membuat garis alur putih berkelok-kelok pada 5 hingga 10 helai daun per tanaman. Pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah per hektar sangat efektif menekan populasi serangga dewasa sebelum bertelur.

Strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menggabungkan pembersihan gulma di sekitar bedengan setiap 7 hari sekali, rotasi tanaman non-inang seperti jagung atau padi selama 1 hingga 2 musim, serta pemanfaatan agens hayati seperti jamur Beauveria bassiana. Jika intensitas kerusakan daun melebihi ambang ekonomi 5 persen, intervensi bahan aktif kimiawi dapat dipertimbangkan sesuai anjuran teknis dari penyuluh pertanian lapangan setempat.

Penyebab & Cara Mengatasi

Ulat Grayak Bawang (Spodoptera exigua)

Ciri: Bercak transparan putih memanjang pada daun, terdapat kotoran hitam di dalam rongga daun, daun terkulai dan patah.

Solusi: Pungut kelompok telur dan larva secara manual pada pagi hari, pasang perangkap feromon sekss 20 hingga 30 buah per hektar, dan aplikasikan agen hayati berbasis Bacillus thuringiensis.

Hama Thrips (Thrips tabaci)

Ciri: Daun berwarna keperakan atau perunggu, muncul bintik bintik hitam kotoran thrips, ujung daun mengering dan meliuk.

Solusi: Gunakan mulsa plastik hitam perak untuk memantulkan sinar matahari, pasang perangkap berperekat warna biru atau kuning 40 buah per hektar, serta pertahankan kelembapan tanah.

Pengorok Daun (Liriomyza chinensis)

Ciri: Garis alur putih bergelombang melingkar pada permukaan daun, jaringan daun mengering dan keropos.

Solusi: Pangkas dan musnahkan helai daun yang terinfeksi berat, manfaatkan parasitoid Hemiptarsenus varicornis, serta pasang perangkap kuning berperekat.

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Ciri: Batang tanaman muda terpotong sejajar permukaan tanah pada malam hari, bibit mendadak roboh dan layu.

Solusi: Olah tanah secara sempurna sebelum tanam untuk membongkar kepompong di dalam tanah dan lakukan perburuan larva di sekitar pangkal batang pada malam hari pukul 20.00.

Langkah-langkah

  1. Lakukan pengamatan rutin 2 kali seminggu pada 10 titik sampel diagonal lahan untuk mendeteksi keberadaan kelompok telur dan gejala awal serangan.
  2. Pasang perangkap kuning berperekat sebanyak 40 lembar per hektar serta perangkap lampu (light trap) 1 hingga 2 unit per hektar di tepi lahan.
  3. Petik dan bakar helai daun yang berisi kelompok telur atau larva ulat grayak sebelum hama menyebar ke rumpun tanaman lain.
  4. Semprotkan biopestisida berbahan aktif jamur entomopatogen Beauveria bassiana atau Metarhizium anisopliae pada sore hari sekitar pukul 16.00.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Bagaimana cara membedakan serangan ulat grayak dengan pengorok daun pada bawang merah?

Ulat grayak memakan jaringan dalam daun hingga bercak tampak transparan melebar dengan kotoran hitam di dalam rongga, sedangkan pengorok daun membentuk garis putih tipis berkelok kelok seperti peta pada permukaan luar daun.

Apakah lampu perangkap (light trap) efektif menekan populasi hama bawang merah?

Sangat efektif. Lampu neon atau LED yang dipasang di atas wadah berisi air sabun mampu menangkap ngengat ulat grayak dan serangga dewasa pengorok daun pada malam hari sebelum bertelur.

Mengapa hama Thrips lebih ganas menyerang bawang merah pada musim kemarau?

Suhu tinggi di atas 30 derajat Celsius dan kelembapan rendah mempercepat siklus hidup Thrips menjadi hanya 7 sampai 10 hari, serta memicu migrasi serangga dari tanaman liar di sekitar lahan.

Berapa lama jeda rotasi tanaman yang ideal untuk memutus siklus hama bawang merah?

Jeda rotasi tanaman yang ideal adalah 1 hingga 2 musim tanam atau sekitar 3 sampai 6 bulan menggunakan tanaman non-inang seperti jagung, padi, atau kacang hijau.

Kapan waktu terbaik mengaplikasikan biopestisida Beauveria bassiana di lapangan?

Waktu terbaik adalah sore hari setelah pukul 15.30 WIB agar spora jamur tidak rusak oleh sinar ultraviolet matahari dan kelembapan malam hari membantu perkecambahan spora pada tubuh hama.

Lebih lanjut tentang Bawang Merah

Panduan terkait

Hama & Pengendalian, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.