Selain akibat kekurangan air, tanaman stroberi yang layu mendadak meskipun media tanamnya masih basah sering kali terserang penyakit layu Fusarium atau busuk pangkal batang Phytophthora. Penyakit tular tanah ini berkembang pesat jika media tanam terlalu padat atau disiram berlebihan di siang bolong. Gejala pembedanya adalah daun tua menguning mendadak, jaringan pembuluh akar berwarna cokelat kemerahan saat dipotong, serta mahkota tanaman atau crown membusuk dan terasa lunak.
Penyebab ketiga dari layu stroberi adalah kerusakan sistem perakaran akibat penumpukan garam dari pupuk sintetis berlebih atau serangan nematoda puru akar. Pemberian pupuk NPK dosis tinggi di atas 2 gram per tanaman per minggu saat cuaca panas dapat membakar akar muda, sehingga penyerapan air terhenti seketika. Pemeriksaan akar secara visual sangat penting: akar sehat berwarna putih bersih, sedangkan akar terbakar pupuk atau terserang parasit akan berwarna kehitaman, kaku, atau bermunculan bintil.
Untuk memulihkan kebun stroberi yang terdampak layu di musim kemarau, pekebun harus menerapkan naungan jaring paranet 50 persen guna menurunkan suhu tajuk tanaman sebesar 3-5 derajat Celsius. Pengaplikasian mulsa organik seperti sekam lapuk atau serabut kelapa setebal 3-5 cm di atas permukaan pot terbukti menekan penguapan air hingga 40 persen. Sanitasi daun yang layu dan pergiliran media tanam secara berkala setiap 6-8 bulan sekali menjadi kunci keberlanjutan panen buah stroberi yang manis.





