Infeksi patogen tanah seperti jamur Fusarium dan bakteri Ralstonia menjadi ancaman utama lahan semangka di Indonesia, terutama yang ditanami berturut-turut tanpa rotasi. Serangan patogen ini merusak pembuluh xilem sehingga penyaluran air dari akar menuju daun terhenti total. Pengamatan visual pada perakaran dan pangkal batang seluas 10-15 cm dari permukaan tanah sangat penting untuk membedakan jenis patogen pemicu layu tersebut.
Penyiraman rutin sebanyak 2-5 liter per lubang tanam setiap pagi jam 06.00-08.00 sangat dianjurkan untuk menjaga kelembapan tanah di angka 60-70 persen. Penggunaan mulsa plastik hitam perak setebal 0,03 mm terbukti efektif menekan suhu tanah dan menjaga ketersediaan air perakaran selama periode kemarau panjang, sekaligus mengurangi risiko stres lingkungan pada tanaman.
Langkah pencegahan jangka panjang melibatkan perbaikan drainase, pemberian pupuk organik matang sebanyak 10-15 ton per hektar saat olah tanah, serta aplikasi agens hayati secara berkala. Jika lebih dari 15 persen populasi tanaman dalam satu bedengan menunjukkan gejala layu sistemik, tindakan isolasi dan sanitasi lahan harus segera dilakukan agar wabah tidak meluas ke seluruh areal pertanaman.





