Untuk membedakan penyebabnya, perhatikan pola keriting dan gejala lain. Keriting akibat virus biasanya dimulai dari daun pucuk dan menyebar ke bawah, sementara keriting karena hama (seperti trips atau kutu daun) sering disertai bercak perak atau bintik hitam (ekskresi). Kekurangan air menyebabkan daun layu sementara lalu keriting permanen jika dibiarkan. Kekurangan seng membuat daun keriting disertai klorosis di antara tulang daun.
Langkah pertama adalah mengendalikan vektor virus. Pada musim kemarau, kutu kebul aktif berkembang. Tanam tanaman perangkap seperti jagung di sekeliling lahan, atau gunakan mulsa plastik perak untuk mengurangi populasi kutu. Untuk hama lain, semprotkan insektisida nabati seperti ekstrak daun nimba atau bawang putih setiap 5-7 hari. Pastikan penyemprotan merata ke bawah daun. Jika sudah terlanjur virus, segera cabut tanaman sakit dan bakar untuk mencegah penularan.
Untuk masalah kekurangan hara atau air, perbaiki irigasi. Pada musim kemarau, beri air setiap 2-3 hari tergantung jenis tanah, pastikan tidak sampai kering. Beri pupuk daun yang mengandung seng (Zn) atau aplikasi pupuk kandang 2-3 ton/ha sebelum tanam. Lakukan pemupukan berimbang dengan NPK 16-16-16 dosis 300-400 kg/ha per musim. Konsultasikan dengan penyuluh setempat untuk dosis spesifik sesuai hasil uji tanah.