Pada musim kemarau, ketersediaan air irigasi sangat menentukan penyerapan nutrisi oleh akar semangka di dalam tanah. Kekurangan air membuat unsur hara penting seperti nitrogen dan magnesium sulit bergerak dari tanah ke jaringan daun, sehingga daun tua menjadi kuning merata sementara pertumbuhan tanaman terhambat. Sebaliknya, penyiraman yang tidak merata juga dapat memicu stres pada akar yang berujung pada kerontokan daun muda. Oleh karena itu, pengaturan jadwal penyiraman sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari sangat krusial selama fase pembentukan buah.
Faktor biotik seperti serangan hama penghisap cairan daun juga menjadi pemicu utama daun menguning di dataran rendah maupun tinggi saat kemarau. Populasi kutu kebul (Bemisia tabaci) dan tungau merah berkembang biak sangat cepat di cuaca panas, menghisap cairan sel daun, dan meninggalkan bercak klorosis yang menyebar luas. Selain itu, patogen tular tanah seperti Fusarium oxysporum dapat aktif menyerang pembuluh angkut tanaman, menyebabkan layu dan menguningnya daun secara sepihak atau keseluruhan pada tanaman semangka berumur 30 hingga 50 hari setelah tanam.
Untuk mengatasi masalah ini secara efektif, kita perlu melakukan diagnosis diferensial yang akurat berdasarkan pola kekuningan pada daun dan kondisi fisik tanaman secara keseluruhan. Perbaikan manajemen pemupukan berimbang dengan tambahan pupuk organik cair serta pengaplikasian mulsa plastik hitam perak dapat menekan suhu tanah dan kelembapan sekitar. Jika ditemukan indikasi serangan hama atau penyakit berat, selalu baca petunjuk pada label kemasan pestisida resmi dan konsultasikan dengan petugas penyuluh lapangan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk pemilihan bahan aktif yang paling tepat.