Saat musim kemarau dengan suhu di atas 30 derajat Celsius, populasi hama hisap seperti kutu daun dan kutu kebul melonjak drastis dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari. Hama ini memicu pembentukan embun jelaga serta menularkan virus kuning yang membuat pertumbuhan sulur terhenti dan buah menjadi kerdil.
Sebaliknya, ketika memasuki musim hujan dengan kelembapan udara melebihi 85 persen, keong mas dan ulat grayak menjadi ancaman utama yang merusak bibit muda umur 1 hingga 14 hari setelah tanam. Pengendalian secara fisik dengan memasang perangkap kuning berperekat sebanyak 40 buah per hektar efektif menekan populasi imago hama terbang.
Penerapan sanitasi gulma di sekitar area perakaran radius 50 sentimeter dan pergiliran tanaman non-kukurbitaseae setiap 1 siklus tanam mampu memutus rantai hidup hama tanah seperti orong-orong. Jika serangan melebihi ambang ekonomi 5 persen kerusakan tanaman, pengaplikasian insektisida hayati berbasis jamur entomopatogen atau bahan aktif rekomendasi BPP menjadi langkah bijak.





