Penyebab pertama yang paling sering ditemukan adalah serangan hama kutu kebul atau tungau yang memanfaatkan kondisi cuaca kering dan berdebu di musim kemarau untuk berkembang biak secara masif. Hama ini mengisap cairan sel daun secara terus-menerus, menyebabkan helaian daun menyusut, menebal, dan melengkung ke atas atau ke bawah. Jika dibiarkan tanpa penanganan, populasi hama akan menyebar ke seluruh rumpun pepaya dalam waktu kurang dari dua minggu, menghambat pertumbuhan pucuk baru, dan membuat daun rontok prematur sebelum sempat berkembang sempurna.
Penyebab kedua adalah infeksi virus gemini atau mosaic yang ditularkan oleh serangga vektor seperti kutu kebul dari tanaman sekitar yang sudah terinfeksi sebelumnya. Ciri khas serangan virus adalah daun keriting yang disertai pola warna mosaik hijau tua dan hijau muda, serta ukuran daun yang menjadi jauh lebih kecil dari biasanya atau berbentuk seperti benang. Tanaman pepaya yang terserang virus berat pada fase vegetatif hampir tidak akan mampu menghasilkan buah yang normal, sehingga sering kali harus dicabut dan dimusnahkan agar tidak menjadi sumber penularan bagi tanaman sehat di sekitarnya.
Faktor lingkungan berupa kekurangan air dan unsur hara mikro akibat penguapan tinggi di musim kemarau juga dapat memicu gejala fisiologis daun keriting pada pepaya. Tanah yang terlalu kering membuat akar tidak mampu menyerap kalsium dan boron secara optimal, yang berakibat pada ketidaknormalan bentuk jaringan daun muda pada pucuk tanaman. Untuk mengatasinya, pastikan melakukan penyiraman rutin sebanyak tiga kali seminggu dengan volume air 20 liter per pohon, serta berikan tambahan pupuk organik matang di sekitar perakaran untuk menjaga kelembapan tanah secara konsisten.