Penyebab kedua yang sangat sering terjadi di lapangan adalah serangan hama kutu kebul atau tungau. Hama berukuran sangat kecil ini bergerombol di bawah permukaan daun pepaya, mengisap cairan sel daun hingga klorofil rusak dan daun berubah warna menjadi kuning bercak-bercak. Di musim kemarau, populasi hama pengisap ini berkembang biak jauh lebih cepat dibandingkan musim hujan karena siklus hidupnya tidak terganggu oleh curahan air hujan.
Faktor ketiga yang perlu diwaspadai adalah defisiensi unsur hara makro, terutama nitrogen dan magnesium. Selama musim kemarau, laju dekomposisi bahan organik di dalam tanah melambat drastis akibat rendahnya kelembapan tanah, sehingga ketersediaan hara bagi tanaman pepaya sangat terbatas. Gejala awal dimulai dari tulang daun yang memudar, lalu menjalar ke seluruh helai daun menjadi kuning pucat, menghambat pertumbuhan buah secara keseluruhan.
Untuk mengatasi masalah ini secara tuntas, kita harus melakukan diagnosis yang tepat di kebun. Lakukan penyiraman secara rutin setiap sore atau pagi hari sebanyak dua hingga tiga kali seminggu dengan volume air yang cukup membasahi zona perakaran. Berikan tambahan pupuk organik matang di sekitar pangkal batang untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kapasitas simpan air, serta lakukan sanitasi kebun secara berkala untuk menekan populasi hama.