Penyebab utama dan paling berbahaya dari daun nanas keriting di Indonesia adalah serangan kutu putih (Dysmicoccus brevipes) yang membawa Pineapple Mealybug Wilt-associated Virus (PMWV). Kutu putih yang hidup berkoloni di ketiak daun dan akar tanaman menghisap cairan tanaman sambil menyuntikkan racun serta virus, menyebabkan daun meliuk, keriting ke bawah, dan berubah warna menjadi kemerahan atau kecokelatan. Kehadiran serangga ini hampir selalu diikuti oleh aktivitas semut yang berperan sebagai penyebar kutu dari satu tanaman ke tanaman lain.
Selain masalah virus dan kutu putih, stres air pada musim kemarau panjang juga memicu daun nanas menggulung ke dalam sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengurangi penguapan. Dalam kondisi ideal, nanas membutuhkan pasokan air setidaknya 20-30 mm per minggu atau penyiraman berkala 1-2 kali seminggu pada tanah berpasir. Jika keriting daun disertai bercak keperakan di permukaan bawah daun, kemungkinan besar tanaman juga terserang hama thrips atau tungau yang berkembang pesat saat kelembapan udara sangat rendah.
Untuk mengimbangi masalah ini, pekebun harus menerapkan sanitasi lahan secara intensif dengan mencabut tanaman terinfeksi berat dan memusnahkannya agar tidak menulari bibit sehat. Penambahan bahan organik berupa kompos sebanyak 2-3 kg per lubang tanam serta pemasangan mulsa jerami setebal 5-10 cm sangat efektif menjaga kelembapan tanah selama musim kemarau. Apabila serangan hama sudah melampaui ambang ekonomi, konsultasikan penggunaan pestisida atau agens hayati dengan petugas BPP setempat.





