Penyebab pertama yang paling sering ditemui adalah kurangnya pasokan air irigasi yang memadai untuk mendukung luasan kanopi tanaman. Pada musim kemarau, laju evapotranspirasi sangat tinggi, membuat tanah cepat kering dan akar kesulitan menyerap hara penting seperti nitrogen dan magnesium. Akibatnya, klorofil pada daun tua terdegradasi lebih cepat, memicu menguningnya daun dari bagian bawah tanaman merambat ini.
Selain faktor air, serangan hama kecil seperti tungau merah dan kutu kebul sangat subur berkembang biak saat cuaca panas dan kering. Hama ini menusuk jaringan daun untuk menghisap cairan sel, meninggalkan bercak klorosis yang lama-kelamaan menyatu dan membuat seluruh helai daun menguning lalu rontok. Pemeriksaan visual yang teliti pada permukaan bawah daun sangat menentukan keberhasilan deteksi dini masalah ini.
Langkah penanganan yang tepat harus dilakukan secara terpadu melalui perbaikan manajemen penyiraman, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama berbasis prinsip budidaya sehat. Pastikan tanaman markisa mendapatkan siraman air sebanyak 10 hingga 15 liter per pohon setiap dua hari sekali pada pagi hari. Selalu konsultasikan penggunaan pengendali organisme pengganggu tanaman kepada petugas penyuluh lapang di Balai Penyuluhan Pertanian setempat.