Faktor kedua yang sering menjadi kendala adalah kurangnya intensitas sinar matahari langsung yang diterima oleh tajuk pohon kelengkeng. Pohon yang ditanam di tempat teduh atau berdesakan dengan tanaman lain akan kekurangan energi fotosintesis yang esensial untuk memicu pembungaan. Pemangkasan rutin setiap selesai panen atau menjelang musim kemarau sangat diperlukan untuk membuka tajuk agar cahaya matahari dapat masuk secara merata ke seluruh bagian cabang.
Selain faktor lingkungan, manajemen pemupukan memegang peranan krusial dalam menentukan apakah kelengkeng akan berbunga atau tidak. Pemberian pupuk tinggi nitrogen secara berlebihan justru akan memperpanjang fase pertumbuhan daun dan menghambat kemunculan malai bunga. Untuk merangsang pembungaan di luar musim atau mempercepatnya, petani di Indonesia kerap menggunakan teknik pembuahan buatan menggunakan zat pengatur tumbuh booster kelengkeng yang diaplikasikan saat kondisi daun sudah tua dan sehat.
Penyiraman juga harus dikelola secara ketat menjelang musim pembungaan untuk meniru siklus kekeringan alami di habitat aslinya. Pengurangan frekuensi air secara bertahap selama tiga hingga empat minggu pada awal musim kemarau akan memaksa tanaman mengalami cekaman ringan yang memicu diferensiasi sel vegetatif menjadi generatif. Setelah muncul tanda malai bunga berupa bintik buludru di ujung ranting, penyiraman dan pemupukan nutrisi fosfor serta kalium harus ditingkatkan kembali untuk mendukung pengisian buah.