Kurangnya pencahayaan matahari langsung menjadi faktor pembatas yang sering diabaikan oleh pekebun rumahan. Tanaman jeruk membutuhkan minimal enam hingga delapan jam paparan sinar matahari penuh setiap hari untuk melakukan fotosintesis secara optimal guna pembentukan kuncup bunga. Pohon yang ternaungi oleh bangunan atau pohon besar di sekitarnya akan cenderung menghasilkan tajuk yang rimbun dengan daun hijau gelap namun steril dari buah.
Kesalahan dalam teknik pemangkasan juga membuat jeruk enggan berbuah karena cabang air atau tunas air terus dipelihara alih-alih cabang produktif. Pemangkasan harus rutin dilakukan setelah masa panen selesai atau menjelang akhir musim kemarau dengan membuang cabang yang mati, bersilangan, atau tumbuh ke arah dalam tajuk. Tujuannya adalah membuka seluruh bagian tajuk agar sinar matahari dapat menembus ke dalam dan merangsang pertumbuhan trubus muda yang potensial menjadi malai bunga.
Manajemen air yang tepat selama musim kemarau dapat dimanfaatkan untuk memaksa tanaman berbuah melalui teknik pengeringan terkontrol. Lakukan penghentian penyiraman selama dua hingga tiga minggu sampai daun jeruk terlihat sedikit layu, lalu berikan pupuk kaya fosfor dan kalium diikuti penyiraman secara masif. Kejutan lingkungan ini akan mengirimkan sinyal biologis kepada tanaman untuk segera mengalihkan energi dari pertumbuhan vegetatif ke pembentukan bunga.