Sebaliknya, memasuki musim hujan pada bulan Oktober hingga April, kelembapan udara yang mencapai lebih dari 80 persen memicu perkembangan hama penggerek buah dan kutu loncat jeruk (Diaphorina citri). Pemangkasan pemeliharaan rutin sebanyak 1 kali setiap 3 bulan pada tajuk tanaman diperlukan untuk menjaga sirkulasi udara dan intensitas cahaya matahari sebesar 80 hingga 100 persen, sehingga memperlambat perkembangan iklim mikro yang disukai hama.
Pengendalian secara hayati dan mekanis dapat diterapkan dengan memasang perangkap kuning berperekat sebanyak 15 hingga 20 buah per hektar untuk memantau keberadaan hama terbang seperti kutu loncat dan lalat buah. Pemberian pupuk kandang matang sebanyak 15 hingga 20 kilogram per pohon yang diberikan 2 kali seminggu sebelum dan sesudah musim hujan juga memperkuat ketahanan alami jaringan tanaman jeruk terhadap gigitan dan hisapan hama.
Jika populasi hama melebihi ambang ekonomi, seperti ditemukannya lebih dari 5 ekor kutu per tunas muda, tindakan penyemprotan berbahan aktif ramah lingkungan atau agens hayati dapat dilakukan pada pagi hari pukul 06.00 hingga 09.00. Penggiliran jenis bahan aktif setiap 2 minggu sekali sangat disarankan untuk mencegah terjadinya resistensi hama jeruk di kebun Anda.





