Penyebab paling umum adalah kekurangan air. Lidah buaya menyimpan air di daunnya, tetapi saat kemarau panjang tanpa penyiraman, daun akan kehilangan turgor dan mulai mengerut serta melengkung. Ciri khasnya: daun terasa lembek, ujung mengering, dan tanah pot benar-benar kering. Solusinya: siram secara merata hingga air keluar dari lubang drainase, lalu biarkan tanah mengering sebelum disiram lagi. Frekuensi penyiraman di musim kemarau bisa 1-2 minggu sekali tergantung ukuran pot dan cuaca.
Penyebab kedua adalah serangan hama seperti kutu putih (mealybug) atau tungau. Hama ini mengisap cairan daun, menyebabkan daun keriput dan melengkung. Ciri pembeda: adanya serbuk putih seperti kapas (kutu putih) atau jaring halus (tungau) di sela daun, serta daun menguning. Solusi: bersihkan hama dengan kapas basah atau semprotkan air sabun (1 sendok teh sabun cair per liter air) setiap 3-4 hari selama 2 minggu. Hindari pestisida kimia tanpa konsultasi dengan penyuluh setempat.
Penyebab ketiga adalah kelebihan garam atau pupuk. Pemupukan berlebihan, terutama dengan pupuk kimia, dapat menyebabkan penumpukan garam di tanah yang menghambat penyerapan air. Ciri: ujung daun kecoklatan, daun keriting ke dalam, dan ada kerak putih di permukaan tanah. Solusi: siram dengan air bersih dalam jumlah banyak (leaching) untuk membilas garam, lalu hentikan pemupukan selama 1-2 bulan. Gunakan pupuk organik seperti kompos dengan dosis rendah (1 sendok teh per pot setiap 3 bulan) di musim hujan.