Frekuensi penyiraman pada musim kemarau idealnya dilakukan 1 hingga 2 kali dalam seminggu dengan mengutamakan prinsip evaluasi tanah. Pekebun disarankan memeriksa kelembapan media tanam pada kedalaman 3 sampai 5 sentimeter sebelum menyiram; jika terasa kering total, berikan penyiraman jenuh hingga air mengalir dari lubang pot. Sebaliknya, penyiraman berlebihan pada media yang padat justru memicu pembusukan akar, yang membuat tanaman gagal menyerap air dan akhirnya menampilkan gejala daun keriting serupa.
Serangan hama hisap seperti thrips, tungau, dan kutu perisai juga menjadi pemicu utama bentuk daun yang terdistorsi dan keriting. Hama ini menusuk jaringan muda di pangkal pucuk untuk mengisap cairan tanaman, sehingga pertumbuhan sel menjadi tidak seimbang saat daun bertambah panjang. Pemantauan rutin pada celah-celah pangkal daun setiap 3 hari sekali sangat efektif untuk mendeteksi keberadaan hama sebelum merusak keseluruhan rumpun.
Paparan sinar matahari terik secara langsung melebihi 6 jam sehari tanpa proses adaptasi dapat membakar jaringan daun dan memicu penggulungan tepi daun. Penggunaan jaring peneduh atau paranet 50 persen di area terbuka sangat direkomendasikan untuk menstabilkan intensitas cahaya. Penggunaan media tanam yang poros dengan racikan tanah humus, pasir malang, dan kompos berbanding 1:1:1 akan menjamin sistem perakaran tetap bernapas dan menyerap nutrisi dengan optimal.






