Pola penyiraman menjadi kunci utama keberhasilan merawat lidah buaya, terutama saat transisi musim kemarau dan musim hujan di Indonesia. Pada musim kemarau, penyiraman dapat dilakukan 7 hingga 10 hari sekali dengan volume air sekitar 200-300 ml per pot hingga merembes dari dasar pot. Sebaliknya, saat musim hujan tiba dan kelembapan udara meningkat, frekuensi penyiraman harus dikurangi menjadi 14 hingga 20 hari sekali atau cukup siram ketika 5 cm lapisan atas media tanam terasa benar-benar kering.
Kebutuhan sinar matahari untuk lidah buaya berkisar antara 5 hingga 6 jam pencahayaan tidak langsung yang terang setiap harinya. Jika diletakkan di luar ruangan tanpa naungan pada puncak musim kemarau, pelepah lidah buaya dapat berubah warna menjadi kecokelatan akibat paparan radiasi berlebih. Pemberian pupuk organik cair dari kasgot atau kompos matang sebanyak 100 ml per tanaman yang diencerkan dapat diberikan setiap 1 sampai 2 bulan sekali untuk memacu pembentukan gel pelepah yang padat.
Pemangkasan dan pemisahan anakan perlu dilakukan secara berkala setiap 6 bulan sekali agar induk tanaman tidak kehabisan nutrisi. Ambil pelepah bagian paling luar dan tua menggunakan pisau steril rapat ke pangkal batang jika ingin dimanfaatkan. Anakan lidah buaya yang sudah berukuran minimal 10 cm dengan 3 sampai 4 helai daun dapat dipisahkan secara perlahan dan dipindahkan ke pot baru untuk perbanyakan mandiri.






