Penyakit busuk akar biasanya ditandai dengan perubahan tekstur akar dari padat berwarna putih kemerahan menjadi lunak, berlendir, dan berwarna cokelat kehitaman. Dalam waktu 5 hingga 7 hari sejak infeksi meluas, sistem pembuluh tanaman akan tersumbat sehingga penyaluran hara terhenti total. Jika frekuensi penyiraman tidak segera dikurangi dari 2 hari sekali menjadi 7 hingga 10 hari sekali pada musim hujan, seluruh perakaran dapat hancur.
Diagnosis diferensial sangat penting untuk membedakan busuk akar akibat infeksi jamur Pythium atau Phytophthora dengan serangan bakteri Erwinia. Infeksi jamur menghasilkan akar yang lemas berbau tanah basah, sedangkan infeksi bakteri menghasilkan bau busuk menyengat yang khas disertai lendir pada bagian pangkal batang. Penanganan yang tepat harus disesuaikan dengan agen penyebab agar tanaman aglonema dapat diselamatkan sebelum kerusakan mencapai 50 persen dari total jaringan.
Pembongkaran media tanam dan pemotongan jaringan yang terinfeksi harus dilakukan sesegera mungkin dengan alat potong steril. Setelah pemotongan, tanaman perlu diangin-anginkan di tempat berteduh selama 24 jam sebelum ditanam kembali menggunakan media tanam baru yang poros. Kombinasi sekam bakar, cocopeat yang sudah dicuci, dan pasir malang dengan rasio 2:1:1 sangat disarankan untuk menjaga drainase tetap optimal di tengah gempuran musim hujan.






