Langkah awal pengobatan dimulai dari diagnosis diferensial dengan mengamati organ tanaman yang terinfeksi secara teliti. Infeksi pada daun umumnya disebabkan oleh jamur Alternaria atau Cercospora yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik berwarna cokelat hingga hitam. Sementara itu, masalah pada bagian bawah tanah atau umbi sering kali disebabkan oleh serangan bakteri Erwinia atau jamur Sclerotium yang membuat jaringan umbi melunak.
Pencegahan dan pengelolaan teknis budidaya menjadi kunci utama dalam menekan laju infeksi selama musim hujan. Petani disarankan membuat bedengan dengan tinggi minimal 30 hingga 40 cm agar drainase lancar dan air hujan tidak menggenang di sekitar perakaran. Pengaturan jarak tanam ideal yaitu 5 hingga 10 cm antar tanaman dan 20 hingga 25 cm antar barisan juga sangat penting untuk menjaga sirkulasi udara di tajuk tanaman.
Untuk pengendalian hayati, pengaplikasian agens hayati seperti Trichoderma spp. sebanyak 10 sampai 20 gram per meter persegi tanah saat olah lahan sangat efektif menekan jamur patogen tular tanah. Jika serangan meluas dan memerlukan tindakan kimiawi, gunakan fungisida atau bakterisida terdaftar sesuai petunjuk pada kemasan, serta lakukan rotasi tanaman dengan keluarga non-Umbelliferae setiap 2 sampai 3 musim tanam.





