Penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk menjaga kelembapan tanah pada tingkat 60 hingga 70 persen, terutama selama fase awal pertumbuhan benih. Pada musim kemarau, siram tanaman wortel sebanyak 1 hingga 2 kali sehari pada pagi dan sore hari menggunakan gembor bertutup halus agar benih tidak bergeser. Sebaliknya, pada musim hujan, pastikan drainase bedengan berfungsi dengan baik untuk mencegah genangan air yang dapat menyebabkan pembusukan umbi serta serangan penyakit jamur. Kelembapan tanah yang tidak stabil dapat memicu masalah umbi pecah atau retak.
Pemeliharaan penting lainnya adalah tindakan penjarangan dan pembumbunan yang dilakukan secara berkala. Penjarangan pertama dilakukan saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST) dengan menyisakan jarak 3 hingga 5 sentimeter, diikuti penjarangan kedua pada umur 30 HST hingga jarak tanam mencapai 8 hingga 10 sentimeter antar tanaman. Selain itu, lakukan pembumbunan atau penimbunan tanah ke pangkal tanaman setiap kali umbi mulai muncul ke permukaan tanah. Langkah ini sangat krusial untuk mencegah pangkal umbi terpapar sinar matahari langsung yang dapat mengubah warnanya menjadi hijau dan berasa pahit.
Pemupukan susulan diberikan pada umur 30 HST dan 45 HST dengan fokus pada unsur Fosfor (P) dan Kalium (K) untuk merangsang pembesaran umbi. Hindari pemberian pupuk Nitrogen tinggi secara berlebihan karena dapat memicu pertumbuhan daun yang terlalu lebat namun menghasilkan umbi yang kecil atau bercabang. Dengan perawatan yang konsisten, wortel siap dipanen pada umur 80 hingga 100 HST saat diameter umbi telah mencapai 2 hingga 3 sentimeter, ditandai dengan warna daun bagian bawah yang mulai menguning secara alami.





