Penyebab paling sering di lapangan adalah serangan hama vektor seperti kutu loncat wortel (Trioza apicalis) dan kutu daun (Aphis spp.) yang populasinya melonjak cepat pada suhu udara hangat dan kelembapan rendah. Serangga berukuran 1 hingga 2 milimeter ini mengisap cairan sel dari permukaan bawah daun muda serta menularkan virus. Pengamatan rutin wajib dilakukan setiap 3 hari sekali dengan memeriksa bagian pucuk tanaman secara teliti.
Selain faktor hama, stres air akibat penyiraman yang tidak teratur pada musim kemarau dapat memperparah kondisi daun mengkerut. Wortel membutuhkan pasokan air yang konsisten sebanyak 20 hingga 25 milimeter per minggu atau penyiraman rutin 2 kali sehari pada pagi sebelum pukul 08.00 dan sore hari setelah pukul 15.00. Kekurangan unsur hara kalsium dan boron pada tanah berpasir juga kerap memicu perubahan bentuk daun muda menjadi abnormal.
Untuk mengatasi masalah ini secara efektif, pendekatan pengendalian hama terpadu harus diterapkan sejak dini. Pemasangan perangkap kuning berperekat sebanyak 20 hingga 30 buah per hektar sangat efektif menurunkan populasi hama dewasa. Kombinasi sanitasi gulma di sekitar bedengan, penyemprotan agens hayati secara berkala setiap 5 hari, serta pemberian pupuk organik cair yang kaya unsur mikro akan membantu memulihkan kesegaran tajuk wortel.





