Penyebab utama daun bayam keriting secara biologis adalah serangan serangga vektor seperti thrips, kutu daun (Aphis sp.), dan kutu kebul (Bemisia tabaci). Hama-hama ini mengisap cairan pada sel-sel muda di pucuk bayam, meninggalkan bekas bercak keperakan atau kekuningan, serta menularkan virus kompleks seperti Geminivirus. Jika keriting disertai warna daun belang hijau muda dan tua (mosaik) serta tekstur kaku, kemungkinan besar tanaman telah terinfeksi virus yang disebarkan oleh kutu kebul.
Selain faktor biologis, daun keriting pada bayam umur 10 sampai 20 hari setelah tanam dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan penyiraman dan kekurangan unsur hara mikro Kalsium (Ca) atau Boron (B). Penyiraman yang kurang konstan, misalnya hanya 1 kali sehari saat terik kemarau, menyebabkan penyerapan Kalsium terganggu sehingga pembentukan dinding sel daun baru menjadi tidak sempurna dan mengkerut. Pemberian pupuk kandang matang sebanyak 1 hingga 2 kilogram per meter persegi sebelum tanam sangat penting untuk menjaga kelembapan serta ketersediaan hara.
Untuk mengendalikan masalah ini secara praktis, lakukan pemeriksaan rutin pada permukaan bawah daun setiap 2 hari sekali pada pagi hari jam 07.00 WIB. Jika serangan hama masih ringan pada lahan seluas 100 meter persegi, pemangkasan pucuk yang terinfeksi atau penyemprotan agens hayati Beauveria bassiana serta sabun cair terlarut dapat menjadi langkah awal. Namun, jika serangan serangga vektor meluas, segera konsultasikan penggunaan pestisida terdaftar ke petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di BPP terdekat demi menjaga keamanan pangan hasil panen.






