Layu fisiologis akibat kekurangan air memiliki pola khas yang mudah dikenali di lapangan. Tanaman tampak terkulai pada pukul 11.00 hingga 14.00 saat terik matahari memuncak, namun kembali segar pada sore atau pagi hari berikutnya. Untuk mengatasi masalah ini, pemberian air sebanyak 1,5 hingga 2 liter per tanaman yang dilakukan rutin setiap pukul 06.00 pagi sangat direkomendasikan. Penggunaan mulsa jerami setebal 5 sampai 8 sentimeter juga efektif menekan penguapan air tanah hingga 40 persen.
Apabila tanaman tetap layu pada malam hari atau kondisi tanah sebenarnya masih basah, penyebab utamanya adalah patogen tanah berupa Ralstonia solanacearum (layu bakteri). Bakteri ini berkembang sangat cepat pada suhu tanah di atas 28 derajat Celsius. Ciri utamanya adalah daun tetap berwarna hijau segar saat layu mendadak. Pengujian sederhana dapat dilakukan dengan memotong pangkal batang lalu mencelupkannya ke dalam air bersih; jika keluar benang halus berwarna putih susu (lendir bakteri) dalam waktu 3 menit, maka positif terinfeksi layu bakteri.
Penyebab lain yang tak kalah merusak adalah Fusarium oxysporum (layu cendawan) dan serangan nematoda bintil akar. Berbeda dengan layu bakteri, layu fusarium berkembang lebih lambat dan diawali dengan menguningnya daun-daun tua di bagian bawah. Pembuluh kayu pada batang yang terinfeksi fusarium akan berwarna cokelat tua saat dibelah. Lakukan pergiliran tanaman dengan famili non-solanaceae seperti jagung atau palawija selama 2 hingga 3 musim tanam berturut-turut untuk memutus siklus hidup patogen tanah tersebut.






