Pada serangan kutu kebul, selain daun keriting, biasanya terdapat embun madu (lendir lengket) di permukaan daun yang bisa ditumbuhi jamur jelaga hitam. Kutu kebul berukuran sangat kecil (1-2 mm), berwarna putih, dan akan beterbangan jika tanaman digoyang. Serangan berat menyebabkan daun menguning, keriting, dan pertumbuhan tanaman terhambat. Kutu kebul aktif pada suhu tinggi dan kelembaban rendah, sehingga musim kemarau menjadi puncak serangan.
Penyebab kedua adalah virus kuning yang ditularkan oleh kutu kebul. Gejalanya meliputi daun menguning di sela tulang daun (mosaik), keriting, dan ukuran daun mengecil. Tanaman menjadi kerdil dan buah tidak berkembang normal. Virus ini tidak bisa diobati, sehingga fokus pengendalian adalah pada vektornya (kutu kebul). Jika satu tanaman sudah terinfeksi, segera cabut dan musnahkan untuk mencegah penularan ke tanaman sehat.
Pengendalian terpadu yang dianjurkan meliputi: (1) menggunakan mulsa plastik perak untuk mengurangi populasi kutu kebul, (2) menanam tanaman perangkap seperti tomat atau cabai di sekitar bedengan, (3) menyemprot dengan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau bawang putih setiap 5-7 hari, dan (4) menjaga kebersihan lahan dari gulma. Jika serangan sudah parah, segera konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk rekomendasi insektisida kimia yang tepat.