Pare, Diagnosis dan Cara Pengendalian Hama Utama Tanaman Pare
Tamanna Rumee / Pexels

Diagnosis dan Cara Pengendalian Hama Utama Tanaman Pare

Pengendalian hama pare secara tepat memerlukan penanganan dini sejak fase pembungaan hingga pemanenan agar produktivitas buah tetap optimal.

Jawaban singkat

Budidaya pare (Momordica charantia) di Indonesia berlangsung sepanjang tahun, namun serangan hama sering menjadi kendala utama yang dapat menurunkan hasil panen hingga 80 persen jika tidak ditangani dalam kurun 14 sampai 21 hari setelah pembungaan. Wilayah tropis dengan kelembapan tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangan organisme pengganggu tanaman, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.

Ringkas: Pare

Cahaya
Penuh (6-8 jam sehari)
Penyiraman
Sedang (jaga kelembapan tanah, jangan sampai tergenang)
Musim
Sepanjang tahun
Tingkat Kesulitan
Mudah

Sangat responsif terhadap pemupukan organik dan membutuhkan sistem rambatan yang kuat.

Pada musim hujan dengan kelembapan udara di atas 80 persen, lalat buah menjadi ancaman terbesar bagi petani pare. Lalat betina menyuntikkan telur ke dalam jaringan buah muda berukuran 3 hingga 5 sentimeter, lalu larva merusak daging buah dari dalam hingga membusuk dan gugur dalam waktu 5 hingga 7 hari.

Saat musim kemarau, serangan hama penghisap cairan seperti thrips dan kutu daun meningkat pesat karena suhu udara yang hangat mempercepat siklus hidup hama menjadi 7 sampai 10 hari. Serangan ini menyebabkan daun pare melengkung, menguning, dan pertumbuhan sulur terhenti, sehingga pembentukan bunga betina berkurang drastis.

Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sangat krusial, meliputi sanitasi kebun dua kali seminggu, rotasi tanaman non-kukurbitaceae setiap 3 sampai 4 bulan, serta pemasangan perangkap kuning sebanyak 15 hingga 20 buah per 100 meter persegi lahan.

Penyebab & Cara Mengatasi

Lalat Buah (Bactrocera cucurbitae)

Ciri: Terdapat titik hitam bekas sengatan pada kulit buah, buah membusuk dari dalam, dan gugur prematur saat berukuran 5-10 cm.

Solusi: Bungkus buah muda menggunakan kertas atau plastik transparan berlubang sejak berukuran 3 cm, serta pasang perangkap atraktan.

Kumbang Daun atau Oteng-oteng (Aulacophora similis)

Ciri: Daun pare berlubang dengan pola melingkar atau terpotong rapi di bagian pinggir, terutama pada tanaman muda berumur 1-4 minggu.

Solusi: Kumpulkan kumbang secara manual pada pagi hari sekitar pukul 06.00-08.00, atau gunakan ekstrak daun mimba.

Kutu Daun (Aphis gossypii) dan Thrips

Ciri: Daun menggulung ke atas atau ke bawah, menebal, terdapat lapisan embun jelut hitam, dan pertumbuhan pucuk terhenti.

Solusi: Semprotkan minyak nabati atau agen hayati berbasis jamur entomopatogen setiap 5-7 hari sekali pada sore hari.

Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Ciri: Daun berlubang besar tidak beraturan hingga tersisa tulang daun, dan terdapat kotoran hitam di sekitar area daun.

Solusi: Pangkas daun yang menjadi sarang kelompok telur ulat, lalu aplikasikan biopestisida berbasis Bacillus thuringiensis.

Langkah-langkah

  1. Lakukan sanitasi lahan dengan membersihkan gulma dan mengumpulkan buah pare yang gugur atau membusuk dua kali seminggu.
  2. Pasang pembungkus fisik berupa kantong kertas ramah lingkungan pada buah muda segera setelah mahkota bunga layu.
  3. Pasang perangkap pelekat berwarna kuning sebanyak 15-20 titik per 100 meter persegi untuk memantau populasi hama terbang.
  4. Lakukan penyemprotan biopestisida berbahan aktif minyak mimba atau agen hayati secara berkala setiap 5 sampai 7 hari pada sore hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik membungkus buah pare agar tidak terserang lalat buah?

Pembungkusan paling efektif dilakukan segera setelah proses penyerbukan selesai atau ketika buah muda berukuran panjang 3 sampai 5 sentimeter.

Apakah pare aman dikonsumsi jika daunnya pernah terserang hama?

Aman dikonsumsi selama buahnya sehat dan telah melewati masa tenggang panen (holding period) sesuai petunjuk penggunaan bahan pengendali yang digunakan.

Mengapa daun pare saya keriting dan berwarna kekuningan?

Gejala tersebut biasanya disebabkan oleh serangan kutu daun atau thrips yang menghisap cairan sel daun sekaligus menularkan virus mosaic.

Bagaimana cara mencegah oteng-oteng menyerang bibit pare yang baru tumbuh?

Gunakan penutup jaring halus (insect net) pada bedengan bibit hingga tanaman berumur 3 minggu atau berdaun empat sejati.

Lebih lanjut tentang Pare

Panduan terkait

Hama & Pengendalian, di semua tanamanBandingkan gejala dan solusinya menurut tanaman, panduan lintas tanaman.