Pengolahan tanah dimulai dengan membuat bedengan setinggi 20 hingga 30 cm dan lebar 100 cm dengan jarak antarbedengan 50 cm. Campurkan 2 hingga 3 kg pupuk kandang matang per meter persegi tanah serta pupuk dasar berupa NPK sebanyak 15 hingga 20 gram per lubang tanam. Pemasangan turus atau ajir berbahan bambu setinggi 2 meter sangat krusial, idealnya dipasang sebelum bibit ditanam dengan sistem para-para atau bentuk huruf A agar buah tumbuh lurus dan tidak membusuk menyentuh tanah.
Pemeliharaan rutin mencakup penyiraman sebanyak 1 sampai 2 kali sehari pada musim kemarau, dan disesuaikan saat musim hujan agar lahan tidak tergenang. Pemupukan susulan diberikan setiap 10 sampai 14 hari sekali menggunakan larutan pupuk NPK sebanyak 5 sampai 10 gram per tanaman yang dikocorkan pada perakaran. Penyiangan gulma dilakukan setiap 2 minggu sekali sekaligus merapikan sulur tanaman agar merambat merata pada anyaman bambu.
Panen pertama oyong dapat dilakukan saat tanaman berumur 40 hingga 50 hari setelah tanam, ditandai dengan kulit buah yang berwarna hijau segar, terasa kenyal saat ditekan, dan panjang buah mencapai 30 hingga 40 cm. Pemungutan hasil dilakukan setiap 2 hingga 3 hari sekali menggunakan gunting pangkas tajam untuk mencegah kerusakan batang utama. Dari satu tanaman, Anda bisa memanen hingga 10 sampai 15 buah selama masa produksi berkisar 1 hingga 2 bulan.






