Gejala busuk akar oyong ditandai dengan daun yang layu secara mendadak pada siang hari tetapi tampak segar kembali pada sore atau malam hari pada fase awal. Jika bagian perakaran dibongkar, akar yang sehat berwarna putih bersih akan berubah menjadi cokelat kehitaman, bertekstur lunak, basah, dan mudah terkelupas saat dipegang. Kondisi ini umumnya memburuk pada tanah asam dengan nilai pH di bawah 5,5 yang tidak diberi perlakuan pengapuran sebelum tanam.
Untuk mengatasi serangan busuk akar, tindakan mekanis pada struktur lahan harus segera dilakukan dengan memperdalam parit drainase minimal 40 cm dan lebar 30 cm agar air hujan langsung mengalir keluar. Pemangkasan daun tua di bagian bawah pangkal batang hingga ketinggian 50 cm dari permukaan tanah wajib dilakukan setiap 7 hari sekali. Langkah ini bertujuan meningkatkan sirkulasi udara mikro di sekitar pangkal tanaman sehingga kelembapan tanah dapat berkurang.
Pengendalian hayati merupakan langkah biologis terbaik dengan mengocorkan agens hayati berbasis jamur antagonis seperti Trichoderma sp. sebanyak 200 hingga 250 ml per lubang tanam setiap 5 sampai 7 hari sekali. Jika tingkat keasaman tanah terlalu tinggi, taburkan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 100 gram per meter persegi di sekitar bedengan untuk menstabilkan pH tanah menuju angka optimal 6,0 hingga 6,5.






